Fashion photography berperan
penting dalam industri hiburan dan mode. Tanpa kemampuan mengolah gambar, tidak
akan ada potret ciamik yang sering menghiasi halaman majalah atau billboard
iklan di jalan. Salah satu fashion photographer ternama di Indonesia adalah Rio
Wibowo atau yang lebih dikenal dengan nama Rio Motret.
Rio merupakan fotografer profesional langganan para artis dan selebriti tanah air. Lewat Nikon Online Learning Program yang dihelat secara daring pada Sabtu (25/4) lalu, Rio pun membagikan kisahnya sebagai fashion photographer. Simak, yuk!
1. Siapkan "peralatan tempur" terlebih dahulu
Sebelum memulai
eksekusi, tentu kita perlu menyiapkan gear terlebih dahulu. Tiga kamera utama
Rio adalah Nikon Z7, D850 dan D750. Sementara, lensa yang paling sering dipakai
Rio untuk memotret fashion dan portrait adalah 24-70mm, 50mm, 85mm dan 35mm.
Sementara, aksesori lighting favorit Rio adalah beauty dish. Ada pula standard reflector dan octabox. Bagi yang hendak merintis sebagai fotografer fashion, Rio menyarankan untuk mempunyai reflektor. Selain bisa memantulkan cahaya dan membuat hasil foto lebih soft, reflektor sangat ringan dan mudah dibawa ke mana-mana.
2.
Menyusun
konsep foto
Selanjutnya,
susun konsep fotomu. Konsep ini terdiri dari mood board, model, set up, make
up, wardrobe dan aksesori. Menurut Rio, kita bisa menciptakan konsep apa pun,
karena kita bisa bebas berkarya dan mengekspresikan sesuatu dalam bentuk foto
fashion. Foto ini bisa dibuat menjadi blur, grain, black & white, atau
vintage, sesuai konsep yang diinginkan dan tetap terlihat artistik. Mood board
ini dibuat dalam bentuk kolase gambar. Misalnya, jika kita ingin memotret
dengan konsep silver, maka cari inspirasi make up, wardrobe dan aksesori
berwarna serupa. Lalu, sesuaikan dengan hair do dan background foto.
3.
Pilih
model yang bisa membawakan konsep ini dengan baik
Langkah
selanjutnya, pilih model yang bisa membawakan konsepmu dengan baik. Menurut
Rio, model tidak harus cantik atau tampan, tetapi harus cocok dengan karakter
yang dicari. Misalnya, konsep yang dibawakan ialah fierce, maka carilah model
yang memiliki karakteristik wajah tertentu seperti rahang tegas atau sorot mata
tajam.
Sementara, model
laki-laki cenderung memiliki karakter maskulin. Alhasil, perlu penyesuaian
lighting, misalnya dibuat dramatis, dengan pencahayaan keras, skintone dibuat
gelap dan ada shadow. Tentu, ini hanya gambaran umum, sebab kamu bisa membuat
konsep di mana perempuan terlihat maskulin atau justru laki-laki menonjolkan
sisi femininnya.
4. Agar
tak bosan, jangan terlalu sering memakai background polos
Setelah konsep didapat, mari beranjak ke set up. Rio menyarankan agar kita mendekorasi set up sesuai konsep. Sebab, jika hanya mengandalkan background polos, maka kita akan cepat bosan. Lantas, apa saran Rio untuk dekorasi set up dan background?
"Dekor
tidak harus mahal. Kamu bisa menggunakan kertas metalik atau rumbai-rumbai
kertas Natal. Bisa juga memakai rumput kering, seolah-olah berada di musim
kemarau," terang Rio, menyarankan kita untuk berinovasi sesuai
kreativitas.
Untuk mengambil
potret wajah, kita tidak perlu set up yang terlalu besar, cukup dengan ukuran
1x1 meter. Cara lain adalah dengan menyobek background atau melempar kain untuk
menyiasati agar tidak terlihat membosankan. Tidak harus keluar banyak uang,
kok!
5.
Jangan
lupakan wardrobe, aksesori dan make up, agar foto terlihat
"bercerita"
mencontohkan konsep foto Pandawa Lima yang melibatkan beberapa aktor tanah air. Di foto itu, terlihat wardrobe berupa pakaian tradisional Jawa yang dipadukan dengan kain batik sebagai bawahan. Tak lupa, busur dan anak panah untuk mempertegas konsep foto.
"Tanpa wardrobe yang mendukung, pasti tidak akan terasa konsep dan cerita yang ingin disampaikan dan hanya akan menjadi foto portrait biasa," jelas pria yang pernah mengenyam pendidikan di jurusan desain grafis ini.
Lantas, kostum
itu didapat dari mana? Menurut Rio, kita tidak harus membeli, tetapi bisa
meminjam pada desainer. Bisa juga meminjam ke baju rancangan mahasiswa jurusan
fashion design. Apabila baju yang dibutuhkan simpel dan bisa dibeli di pasaran,
Rio menyarankan untuk membelinya. And of course, jangan lupa untuk me-mention
brand atau desainer saat hasil fotonya diunggah ke sosial media, sebagai bentuk
apresiasi.
6.
Terakhir,
jangan lupa mengunggah portfolio sebagai bentuk kredibilitas
Ingin menjadi fotografer fashion seperti Rio? Tentunya, jangan lupa untuk terus berlatih dan mengunggah karya kita sebagai portfolio di sosial media. Rio sendiri lebih nyaman mengunggah hasil fotonya di Instagram dibandingkan dengan medium lain. Mengapa?
"Di Instagram,
kita bisa berinteraksi dengan followers. Mereka bisa merespon, bertanya atau
memberikan saran dan masukan. Jangan lupa untuk mengunggah portfolio yang bagus
agar orang lain terkesan. Dari sana, link dan tawaran job bisa terbuka,"
saran Rio.
foto yang bagus
saja. Jika klien melihat foto yang kualitasnya kurang, maka akan timbul
keraguan dan membuat mereka berpikir ulang untuk memakai jasa kita.
Tentang Penulis
SANTI WIDIASTUTI S.T, M.T
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.