S1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas STEKOM
MENU
AGAR DOSEN DAN MAHASISWA INTERAKTIF DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Informasi 112 dibaca

AGAR DOSEN DAN MAHASISWA INTERAKTIF DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

A

AYYUB HAMDANU BUDI NURMANA.M.S, S.Sn, M.Ds

Informasi

Diterbitkan

calendar_today 7 Agustus 2022

A. Pendahuluan

1. Deskripsi Singka

Bab ini dibahas penyelenggaraan pembelajaran orang dewasa yang meliputi komponen-komponen penyelenggaraan pembelajaran orang dewasa dan pelaksanaan perkuliahan. Komponen-komponen terdiri dari: mahasiswa, dosen, tujuan pembelajaran, materi atau bahan pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar dan media pembelajaran, serta penilaian pembelajaran.

2. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan

Setelah mempelajari bab ini diharapkan peserta dapat :

  1. mengidentifikasi komponen-komponen penyelenggaraan pembelajaran orang dewasa;
  2. mendeskripsikan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan perkuliahan.

 

 

B. Penyajian

1. komponen-komponen Penyelenggaraan Pembelajaran Orang Dewasa

Ada berbagai komponen yang dapat mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran bagi orang dewasa yakni: mahasiswa dan dosen; tujuan, materi, metode, media, dan penilaian pembelajaran.

a. Mahasiswa

Mengingat sasaran pembelajaran orang dewasa adalah mahasiswa, karena keberhasilan pembelajaran orang dewasa diukur berdasarkan apa yang diperoleh mahasiswa bukan apa yang dilakukan dosen (Lunandi, 1987). Oleh karena itu kebutuhan, karakteristik, dan gaya belajar mahasiswa menjadi titik tolak dan fokus penyelenggaraan pembelajaran orang dewasa di perguruan tinggi (Pannen dan Sadjati, 2005: 16-17).

Orang dewasa, sebenarnya tidak dapat diajarkan sesuatu untuk merubah tingkah lakunya. Orang dewasa hanya akan belajar kalau ia sendiri memang ingin belajar, terdorong oleh rasa tidak puas lagi dengan perilakunya sekarang, menginginkan suatu perilaku yang lain di masa mendatang, lalu mengambil langkah-langkah untuk mencapai perilaku baru tersebut. Pembelajaran orang dewasa hanya akan dapat menjadi efektif dalam arti menghasilkan perubahan perilaku seperti yang dikehendaki, apabila isi dan cara pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan yang dirasakannya. Sehubungan dengan kebutuhan ini, ada baiknya untuk  dipertimbangkan konsep piramida kebutuhan menurut Maslow (Lunandi, 1987). Tingkatan kebutuhan (dari yang paling dasar sampai ke yang tertinggi) sebagai berikut.

Sumber: Lunandi (1987)

Kebutuhan yang lebih mendasar haruslah terpenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang dapat merasakan kebutuhan yang lebih tinggi tingkatnya. Misalnya: kebutuhan pembelajaran orang dewasa yang menyangkut harga diri sama sekali tidak akan diperhatikan oleh mahasiswa yang masih sulit untuk dapat memperoleh sesuap nasi untuk mempertahankan hidupnya, Namun sebaliknya, kebutuhan pembelajaran orang dewasa yang menyangkut bagaimana memperoleh sekedar sesuap nasi, juga sama sekali tidak akan diperhatikan, apabila orang dewasa itu telah mempunyai cukup nasi untuk isi perutnya, pakaiannya dan rumah yang mengamankan segala miliknya serta dirinya, apalagi kalau ia telah sampai pada tingkat pengakuan sebagai anggota masyarakat yang berguna.

Karakteristik belajar orang dewasa berdasarkan asumsi-asumsi (Pannen dan Sadjati: 2005: 15; Rosita, 2011: 2; Pappas, 2013; Malik, 2015) sebagai berikut: memiliki konsep diri mampu mengambil keputusan sendiri, mampu memikul tanggung jawab, dan sadar terhadap tugas dan perannya; sudah banyak memperoleh pengalaman yang merupakan sumber belajar yang sangat berharga; mempunyai kesiapan untuk menyelesaikan masalah dan tugas-tugas yang dihadapinya; dan orientasi belajarnya cenderung berpusat pada permasalahan yang sedang dihadapi sekarang ini, terutama permasalahan yang berkaitan dengan fungsi dan peran sosialnya.

Menurut Pannen dan Sadjati (2005: 16) ciri-ciri gaya belajar mahasiswa, antara lain mereka senang diberi kebebasan karena sudah dapat mengarahkan diri sendiri, tidak menyukai hafalan-hafalan, lebih mengutamakan pemecahan masalah dan hal-hal  yang praktis daripada yang teoretis. Kegiatan belajar berupa kuliah saja tidak menarik bagi mahasiswa, mereka lebih senang terlibat dalam interaksi intelektual dengan teman-temannya seperti diskusi kelompok, latihan-latihan pemecahan masalah.

Apabila bahan yang disajikan dosen memenuhi kebutuhan mahasiswa dan disajikan sesuai dengan karakteristik dan gaya belajar mereka, maka mahasiswa  akan dengan mudah menguasai bahan tersebut dan dapat mempraktekkan-nya di masyarakat (Pannen dan Sadjati, 2005: 17). Sebaliknya jika penyampaian bahan tidak sesuai dengan kebutuhan, karakteristik dan gaya belajar mahasiswa, maka tujuan pembelajaran akar sukar tercapai.

b. dosen

Mahasiswa sebagai orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila mereka merasa ikut dilibatkan oleh dosen dalam aktivasi pembelajaran, terutama apabila mereka dilibatkan dalam memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Mahasiswa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati, dan akan lebih senang kalau diberi kesempatan memberikan sumbang saran pemikiran dan mengemukakan ide pikirannya. Menurut Pannen dan Sadjati (2005: 17-19) dalam membelajarkan mahasiswa sebagai orang dewasa fungsi dosen menjadi berubah. Dosen bukan lagi berperan sebagai pengajar yang menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan fasilitator yang mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kehidupan sebenarnya menjadi suatu pengalaman dan pengetahuan baru yang memberi arti baru bagi mahasiswa. Pengalaman baru tersebut melibatkan baik dosen maupun mahasiswa. Untuk mencapai hal tersebut, dosen diharapkan terampil untuk memulai diskusi, menyediakan informasi (acuan), meningkatkan partisipasi, menentukan kriteria dan rambu-rambu, menengahi perbedaan, mengkoordinasi dan menganalisis informasi, dan membuat ringkasan atau rangkuman seperti berikut ini.

 

 

1) Memulai diskusi.

Diskusi yang baik dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang memancing dan dapat melibatkan semua mahasiswa.

2) Menyediakan informasi (acuan).

Dosen hendaknya mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan mahasiswa, agar proses pembelajaran berjalan lancar dan berhasil.

3) Meningkatkan partisipasi.

Dosen mengusahakan agar setiap mahasiswa mendapat kesempatan berpendapat, tidak didominasi oleh satu atau dua orang saja. Partisipasi dapat ditingkatkan, misalnya dengan cara dosen memberi giliran yang sama kepada semua mahasiswa ketua kelompok.

4) Menentukan kriteria dan rambu-rambu.

Dengan adanya kriteria dan rambu-rambu yang jelas akan mengarahkan proses pembelajaran menjadi lancar dan berhasil. Misalnya dalam diskusi ditentukan tujuan dan hasil yang diharapkan, maka proses dan hasil diskusi dapat mencapai seperti yang diharapkan.

5) Menengahi perbedaan.

Perbedaan persepsi atau pendapat dapat menumbuhkan diskusi yang baik, namun perbedaan yang berlarut-larut dapat menyebabkan diskusi tidak mencapai tujuannya. Peran dosen sangat penting untuk menengahi perbedaan tersebut secara objektif.

6) Mengkoordinasikan dan menganalisis informasi. 

Koordinasi, analisis dan hubungan yang jelas antara informasi-informasi yang diberikan oleh mahasiswa adalah kunci  untuk mempertahankan kelangsungan diskusi yang baik. Dosen perlu menuntun mahasiswa untuk dapat mengkoordinasi dan menganalisis informasi yang diperoleh selama diskusi.

7) Membuat ringkasan atau rangkuman

Mahasiswa belum tentu mengerti akan apa yang diperoleh dari perkuliahan yang diikuti. Dosen dengan melibatkan mahasiswa diharapkan meringkas atau merangkum hasil perkuliahan. Rhohmad dan Evi (2014) menambahkan bahwa dosen diharapkan dapat membuat mahasiswa merasa diterima, dihargai dan didukung. Untuk itu diharapkan dosen melakukan beberapa hal berikut ini.

  1. Menjadi fasilitator yang lebih bersifat membantu dan mendukung kegiatan belajar mahasiswa.
  2. Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan bina suasana dan berbagai permainan yang sesuai.
  3. Menciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut.
  4. Mengembangkan semangat kebersamaan.
  5. Menghindari adanya komunikasi sifatnya satu arah.
  6. Menyusun kontrak belajar yang disepakati bersama.

 

c. Tujuan Pembelajaran

Menurut Pannen dan Sadjati (2005: 1-2) tujuan orang dewasa mengikuti pendidikan bervariasi, antara lain untuk promosi, naik pangkat, memperbarui pengetahuan, memperluas interaksi sosial antara sesama peserta atau memperdalam ilmu itu sendiri. Tujuan tersebut sangat menentukan proses belajar orang dewasa. Selain itu, proses belajar orang dewasa juga dipengaruhi berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal.

Dalam pembelajaran di perguruan tinggi sesuai KKNI dan SN Dikti disebut capaian pembelajaran (Tim Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 2014: 14-34). Capaian pembelajaran mata kuliah merupakan jabaran dari capaian pembelajaran lulusan. Dalam setiap pembelajaran, tujuan pembelajaran hendaklah mencakup tiga hal pokok yakni: kognitif, afektif, dan psikomotorik.

d. Materi atau Bahan Pembelajaran 

Bahan pembelajaran berisi pengetahuan, keterampilan dan atau nilai-nilai. Bahan pembelajaran itu pula yang akan dipelajari mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu bahan pembelajaran harus dipilih atas pertimbangan sejauh mana peranannya dalam menciptakan situasi untuk penyesuaian perilaku mahasiswa di dalam mencapai tujuan belajar yang diterapkan. Bahan pembelajaran itu pun akan mempengaruhi pertimbangan dosen dalam memilih dan menetapkan metode pembelajaran (Iryanto dan Sukoco dkk, 2013)

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh dosen dalam pemilihan bahan pembelajaran adalah kebutuhan, gaya belajar, dan karakteristik mahasiswa (Pannen dan Sadjati, 2005: 16-17). Dengan demikian akan memudahkan mahasiswa dalam menguasai bahan tersebut, dan dapat mempraktekkan- nya di masyarakat. 

Seorang dosen hendaknya mengetahui faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan pembelajaran (Sukoco dkk, 2013). Ketertarikan mahasiswa dalam mempelajari bahan pembelajaran merupakan manifestasi dari perilaku belajar mahasiswa. Faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan pembelajaran adalah tingkat kemampuan mahasiswa, keterkaitan- nya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh mahasiswa, tingkat daya tarik bahan pembelajaran, dan tingkat kebaruan dan aktualisasi pembelajaran.

e. Metode Pembelajaran

Dalam pembelajaran orang dewasa, digunakan multi metode. Untuk mem-berhasilkan pembelajaran semacam ini, apapun metode yang diterapkan seharusnya mempertimbangkan faktor sarana dan prasarana yang tersedia untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran, yakni agar mahasiswa dapat memiliki suatu pengalaman belajar yang bermutu. Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran, harus (1) berpusat pada masalah, (2) menuntut dan mendorong mahasiswa untuk aktif, (3) mendorong mahasiswa untuk mengemukakan pengalaman sehari-harinya, (4) menumbuhkan kerja sama, baik antara sesama mahasiswa, dan antara mahasiswa dengan dosen, dan (5) lebih bersifat pengembangan pengalaman, bukan merupakan transformasi atau penyerapan materi (Sukoco dkk, 2013).

 

 

 

Pada ceramah mahasiswa hanya mendengar, bicara sangat terbatas bila ada tanya jawab saja. Dalam diskusi proporsi mahasiswa berbicara dan mendengarkan seimbang. Dalam demonstrasi mahasiswa dapat sekaligus mendengar, melihat dan berbicara. Dalam latihan praktis mahasiswa mendengar, berbicara, melihat dan juga mengerjakan. Manusia belajar 1% melalui indera perasa, 11% melalui indera peraba, 31% melalui indera pencium, 11 % melalui indera pendengar, 83 % melalui indera penglihat. Metode yang hanya mengandalkan indera pendengar biasanya kurang efektif dibandingkan dengan yang menggabungkan penyampaian melalui indera pendengar maupun indera penglihat. Manusia belajar lebih efektif apabila dapat mendengarkan dan berbicara, akan lebih baik apabila di samping mendengarkan dan berbicara ia juga dapat melihat, dan akan lebih baik lagi apabila di samping mendengarkan, berbicara, dan melihat ia juga dapat mengerjakan.

F. Sumber Belajar dan Media Pembelajaran

Menurut hasil penelitian Penland (dalam Pannen Sadjati, 2005: 22), sumber belajar yang paling dianggap penting oleh orang dewasa adalah teman (dan/atau keluarga, tetangga). Hal ini berarti bahwa strategi pembelajaran orang dewasa harus direncanakan sedemikian rupa sehingga melibatkan interaksi dengan teman yang frekuensinya cukup banyak.

Yang dianggap penting setelah teman, adalah pakar atau tenaga ahli atau dosen. Hal ini perlu diingat oleh dosen, agar bisa menempatkan diri bukan sebagai sumber informasi yang serba tahu, tetapi lebih menjadi sahabat yang menghargai mahasiswa sebagai orang dewasa (Pannen dan Sadjati, 2005: 22). Setelah teman dan dosen, orang dewasa juga menggunakan media cetak dan media non-cetak. Yang termasuk dalam media cetak antara lain buku, modul, handout, jurnal, bulletin, kamus, ensiklopedia, booklet, leaflet, chart, foto, surat kabar, dan majalah. Sedangkan yang termasuk dalam media non cetak antara lain komputer, laptop, LCD, radio, kaset, slide, film, video, televisi. Dengan memperhatikan kebutuhan, karakteristik dan gaya belajar mahasiswa sebagai orang dewasa, maka dosen dapat memilih sumber belajar dan media pembelajaran yang perlu disediakan dan digunakan dalam pelaksanaan perkuliahan. Yang perlu diperhatikan dalam pemilihan sumber belajar dan media pembelajaran adalah bahwa kombinasi beberapa sumber belajar dan media pembelajaran yang digunakan dengan tepat akan lebih baik daripada penggunaan satu sumber belajar atau satu media pembelajaran saja.

g. Penilaian Pembelajaran 

Pendekatan penilaian pembelajaran secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Menurut Rhohmad dan Evi (2014:5) ada hal beberapa yang pokok dalam melaksanakan penilaian hasil belajar bagi mahasiswa sebagai orang  dewasa yakni :

  1. Penilaian hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku  setelah mengikuti proses pembelajaran.
  2. Sebaiknya penilaian dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh mahasiswa itu sendiri (Self Evaluation).
  3. Perubahan positif perilaku merupakan tokoh ukur keberhasilan pembelajaran.
  4. Ruang lingkup materi penilaian “ditetapkan bersama secara partisipatif” atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat.
  5. Penilaian ditujukan untuk menilai efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pembelajaran yang mencakup kekuatan maupun kelemahan pembelajaran.
  6. Menilai efektivitas pembelajaran berkaitan dengan perubahan sikap dan perilaku mahasiswa.

 

 

2. Pelaksanaan Perkuliahan

Dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran perlu memperhatikan komponen-komponen pembelajaran seperti tersebut di atas, dengan cara memadukan dan mengintegrasikan komponen-komponen tersebut. Panen dan Sadjati (2005: 20-21) menjelaskan bahwa berapapun baiknya perencanaan perkuliahan yang telah dibuat, sikap fleksibel tetap diperlukan, karena pada saat pelaksanaan perkuliahan mungkin diperlukan perubahan dari rencana yang sudah ada. Dengan demikian, dalam pelaksanaan perkuliahan, dosen perlu cepat tanggap jika ada hal-hal yang tidak dipertimbangkan sebelumnya untuk kemudian dapat segera menyesuaikan perkuliahan dengan hal-hal tersebut.

Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan oleh dosen dalam melaksanakan perkuliahan adalah umpan balik (feedback). Umpan balik ini berguna baik bagi mahasiswa maupun dosen untuk melanjutkan proses perkuliahan berikutnya. Umpan balik dari dosen bagi mahasiswa merupakan cara untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa memperbaiki proses belajarnya. Tidak adanya umpan balik dari dosen dapat menyebabkan mahasiswa frustasi, bosan, dan kehilangan arah. Karena mereka tidak tahu tentang apa dan di mana kesalahan mereka, mereka tidak tahu apa kekurangan mereka, mereka juga tidak mengetahui bagaimana posisi mereka dibandingkan dengan sesama temannya. Oleh sebab itu, umpan balik ini penting sekali bagi mahasiswa untuk mencapai tujuan belajarnya.

Sebaliknya umpan balik dari mahasiswa bagi dosen berguna untuk menyesuaikan proses perkuliahan dan strategi pembelajaran berdasarkan kebutuhan, karakteristik, dan gaya belajar mahasiswa. Jika dosen tidak mengetahui persepsi mahasiswa tentang proses perkuliahan yang dijalankan, dosen tidak mengerti apa dan dimana kekurangan perkuliahan-nya. Umpan balik mahasiswa juga memberi kesempatan kepada dosen untuk bersikap fleksibel terhadap kebutuhan mahasiswa dan rencana perkuliahan yang dibuatnya.

 

C. Penutup

1. Rangkuman 

  1. Komponen-komponen yang dapat mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran orang dewasa terdiri dari: mahasiswa, dosen, tujuan pembelajaran, materi atau bahan pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, dan media pembelajaran, serta penilaian pembelajaran.
  2. Dalam pelaksanaan perkuliahan diperlukan sikap fleksibel dalam kecepatan dari dosen untuk menanggapi perubahan yang diperlukan. Selain itu perlu diperlukan pemberian umpan balik dari dosen bagi mahasiswa, serta sebaliknya umpan balik dari mahasiswa bagi dosen untuk perbaikan dan pengembangan belajar dan pembelajaran.

 

2. Evaluasi

  1. Identifikasikan berbagai komponen yang dapat mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran bagi mahasiswa sebagai orang dewasa.
  2. Deskripsikan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan perkuliahan yang efektif.

 

3. Tindak Lanjut

Sebagai tindak lanjut dari bab V, peserta diharapkan menyusun perencanaan pembelajaran pada salah satu mata kuliah yang diampu peserta, dengan cara memadukan dan mengintegrasikan berbagai komponen pembelajaran yang dapat mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran bagi mahasiswa sebagai orang dewasa. Menyusun perencanaan pembelajaran (bukan RPS) dengan cara memadukan berbagai komponen pembelajaran internal+eksternal!.

A

Tentang Penulis

AYYUB HAMDANU BUDI NURMANA.M.S, S.Sn, M.Ds

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.