A. Pendahuluan
1. Deskripsi
Singka
Bab ini
dibahas penyelenggaraan pembelajaran orang dewasa yang meliputi
komponen-komponen penyelenggaraan pembelajaran orang dewasa dan pelaksanaan
perkuliahan. Komponen-komponen terdiri dari: mahasiswa, dosen, tujuan
pembelajaran, materi atau bahan pembelajaran, metode pembelajaran, sumber
belajar dan media pembelajaran, serta penilaian pembelajaran.
2. Kemampuan
Akhir Yang Diharapkan
Setelah
mempelajari bab ini diharapkan peserta dapat :
- mengidentifikasi
komponen-komponen penyelenggaraan pembelajaran orang dewasa;
- mendeskripsikan
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan perkuliahan.
B. Penyajian
1.
komponen-komponen Penyelenggaraan Pembelajaran Orang Dewasa
Ada berbagai
komponen yang dapat mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran bagi
orang dewasa yakni: mahasiswa dan dosen; tujuan, materi, metode, media, dan
penilaian pembelajaran.
a. Mahasiswa
Mengingat
sasaran pembelajaran orang dewasa adalah mahasiswa, karena keberhasilan
pembelajaran orang dewasa diukur berdasarkan apa yang diperoleh mahasiswa bukan
apa yang dilakukan dosen (Lunandi, 1987). Oleh karena itu kebutuhan,
karakteristik, dan gaya belajar mahasiswa menjadi titik tolak dan fokus penyelenggaraan
pembelajaran orang dewasa di perguruan tinggi (Pannen dan Sadjati, 2005:
16-17).
Orang dewasa,
sebenarnya tidak dapat diajarkan sesuatu untuk merubah tingkah lakunya. Orang
dewasa hanya akan belajar kalau ia sendiri memang ingin belajar, terdorong oleh
rasa tidak puas lagi dengan perilakunya sekarang, menginginkan suatu perilaku
yang lain di masa mendatang, lalu mengambil langkah-langkah untuk mencapai
perilaku baru tersebut. Pembelajaran orang dewasa hanya akan dapat menjadi
efektif dalam arti menghasilkan perubahan perilaku seperti yang dikehendaki,
apabila isi dan cara pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan yang
dirasakannya. Sehubungan dengan kebutuhan ini, ada baiknya untuk
dipertimbangkan konsep piramida kebutuhan menurut Maslow (Lunandi, 1987).
Tingkatan kebutuhan (dari yang paling dasar sampai ke yang tertinggi) sebagai
berikut.
Sumber:
Lunandi (1987)
Kebutuhan yang
lebih mendasar haruslah terpenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang dapat
merasakan kebutuhan yang lebih tinggi tingkatnya. Misalnya: kebutuhan
pembelajaran orang dewasa yang menyangkut harga diri sama sekali tidak akan
diperhatikan oleh mahasiswa yang masih sulit untuk dapat memperoleh sesuap nasi
untuk mempertahankan hidupnya, Namun sebaliknya, kebutuhan pembelajaran orang
dewasa yang menyangkut bagaimana memperoleh sekedar sesuap nasi, juga sama
sekali tidak akan diperhatikan, apabila orang dewasa itu telah mempunyai cukup
nasi untuk isi perutnya, pakaiannya dan rumah yang mengamankan segala miliknya
serta dirinya, apalagi kalau ia telah sampai pada tingkat pengakuan sebagai
anggota masyarakat yang berguna.
Karakteristik
belajar orang dewasa berdasarkan asumsi-asumsi (Pannen dan Sadjati: 2005: 15;
Rosita, 2011: 2; Pappas, 2013; Malik, 2015) sebagai berikut: memiliki konsep
diri mampu mengambil keputusan sendiri, mampu memikul tanggung jawab, dan sadar
terhadap tugas dan perannya; sudah banyak memperoleh pengalaman yang merupakan
sumber belajar yang sangat berharga; mempunyai kesiapan untuk menyelesaikan
masalah dan tugas-tugas yang dihadapinya; dan orientasi belajarnya cenderung
berpusat pada permasalahan yang sedang dihadapi sekarang ini, terutama
permasalahan yang berkaitan dengan fungsi dan peran sosialnya.
Menurut Pannen
dan Sadjati (2005: 16) ciri-ciri gaya belajar mahasiswa, antara lain mereka
senang diberi kebebasan karena sudah dapat mengarahkan diri sendiri, tidak
menyukai hafalan-hafalan, lebih mengutamakan pemecahan masalah dan
hal-hal yang praktis daripada yang teoretis. Kegiatan belajar berupa
kuliah saja tidak menarik bagi mahasiswa, mereka lebih senang terlibat dalam
interaksi intelektual dengan teman-temannya seperti diskusi kelompok,
latihan-latihan pemecahan masalah.
Apabila bahan
yang disajikan dosen memenuhi kebutuhan mahasiswa dan disajikan sesuai dengan
karakteristik dan gaya belajar mereka, maka mahasiswa akan dengan mudah
menguasai bahan tersebut dan dapat mempraktekkan-nya di masyarakat (Pannen dan
Sadjati, 2005: 17). Sebaliknya jika penyampaian bahan tidak sesuai dengan
kebutuhan, karakteristik dan gaya belajar mahasiswa, maka tujuan pembelajaran
akar sukar tercapai.
b. dosen
Mahasiswa
sebagai orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila mereka merasa ikut
dilibatkan oleh dosen dalam aktivasi pembelajaran, terutama apabila mereka
dilibatkan dalam memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka
merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Mahasiswa
akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati, dan akan lebih
senang kalau diberi kesempatan memberikan sumbang saran pemikiran dan
mengemukakan ide pikirannya. Menurut Pannen dan Sadjati (2005: 17-19) dalam
membelajarkan mahasiswa sebagai orang dewasa fungsi dosen menjadi berubah.
Dosen bukan lagi berperan sebagai pengajar yang menyampaikan ilmu pengetahuan,
melainkan fasilitator yang mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kehidupan
sebenarnya menjadi suatu pengalaman dan pengetahuan baru yang memberi arti baru
bagi mahasiswa. Pengalaman baru tersebut melibatkan baik dosen maupun
mahasiswa. Untuk mencapai hal tersebut, dosen diharapkan terampil untuk memulai
diskusi, menyediakan informasi (acuan), meningkatkan partisipasi, menentukan
kriteria dan rambu-rambu, menengahi perbedaan, mengkoordinasi dan menganalisis
informasi, dan membuat ringkasan atau rangkuman seperti berikut ini.
1) Memulai
diskusi.
Diskusi yang
baik dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang memancing dan dapat melibatkan
semua mahasiswa.
2) Menyediakan
informasi (acuan).
Dosen
hendaknya mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan mahasiswa, agar proses
pembelajaran berjalan lancar dan berhasil.
3)
Meningkatkan partisipasi.
Dosen
mengusahakan agar setiap mahasiswa mendapat kesempatan berpendapat, tidak
didominasi oleh satu atau dua orang saja. Partisipasi dapat ditingkatkan,
misalnya dengan cara dosen memberi giliran yang sama kepada semua mahasiswa
ketua kelompok.
4) Menentukan
kriteria dan rambu-rambu.
Dengan adanya
kriteria dan rambu-rambu yang jelas akan mengarahkan proses pembelajaran
menjadi lancar dan berhasil. Misalnya dalam diskusi ditentukan tujuan dan hasil
yang diharapkan, maka proses dan hasil diskusi dapat mencapai seperti yang
diharapkan.
5) Menengahi
perbedaan.
Perbedaan
persepsi atau pendapat dapat menumbuhkan diskusi yang baik, namun perbedaan
yang berlarut-larut dapat menyebabkan diskusi tidak mencapai tujuannya. Peran
dosen sangat penting untuk menengahi perbedaan tersebut secara objektif.
6)
Mengkoordinasikan dan menganalisis informasi.
Koordinasi,
analisis dan hubungan yang jelas antara informasi-informasi yang diberikan oleh
mahasiswa adalah kunci untuk mempertahankan kelangsungan diskusi yang
baik. Dosen perlu menuntun mahasiswa untuk dapat mengkoordinasi dan
menganalisis informasi yang diperoleh selama diskusi.
7) Membuat
ringkasan atau rangkuman
Mahasiswa
belum tentu mengerti akan apa yang diperoleh dari perkuliahan yang diikuti.
Dosen dengan melibatkan mahasiswa diharapkan meringkas atau merangkum hasil
perkuliahan. Rhohmad dan Evi (2014) menambahkan bahwa dosen diharapkan dapat
membuat mahasiswa merasa diterima, dihargai dan didukung. Untuk itu diharapkan
dosen melakukan beberapa hal berikut ini.
- Menjadi
fasilitator yang lebih bersifat membantu dan mendukung kegiatan belajar
mahasiswa.
- Mengembangkan
suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan bina suasana dan
berbagai permainan yang sesuai.
- Menciptakan
suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa
takut.
- Mengembangkan
semangat kebersamaan.
- Menghindari
adanya komunikasi sifatnya satu arah.
- Menyusun
kontrak belajar yang disepakati bersama.
c. Tujuan
Pembelajaran
Menurut Pannen
dan Sadjati (2005: 1-2) tujuan orang dewasa mengikuti pendidikan bervariasi,
antara lain untuk promosi, naik pangkat, memperbarui pengetahuan, memperluas
interaksi sosial antara sesama peserta atau memperdalam ilmu itu sendiri.
Tujuan tersebut sangat menentukan proses belajar orang dewasa. Selain itu,
proses belajar orang dewasa juga dipengaruhi berbagai faktor, baik faktor
internal maupun eksternal.
Dalam
pembelajaran di perguruan tinggi sesuai KKNI dan SN Dikti disebut capaian
pembelajaran (Tim Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Direktorat
Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 2014: 14-34). Capaian pembelajaran mata kuliah
merupakan jabaran dari capaian pembelajaran lulusan. Dalam setiap pembelajaran,
tujuan pembelajaran hendaklah mencakup tiga hal pokok yakni: kognitif, afektif,
dan psikomotorik.
d. Materi atau
Bahan Pembelajaran
Bahan
pembelajaran berisi pengetahuan, keterampilan dan atau nilai-nilai. Bahan
pembelajaran itu pula yang akan dipelajari mahasiswa mencapai tujuan
pembelajaran. Oleh karena itu bahan pembelajaran harus dipilih atas
pertimbangan sejauh mana peranannya dalam menciptakan situasi untuk penyesuaian
perilaku mahasiswa di dalam mencapai tujuan belajar yang diterapkan. Bahan
pembelajaran itu pun akan mempengaruhi pertimbangan dosen dalam memilih dan
menetapkan metode pembelajaran (Iryanto dan Sukoco dkk, 2013)
Hal-hal yang
perlu dipertimbangkan oleh dosen dalam pemilihan bahan pembelajaran adalah
kebutuhan, gaya belajar, dan karakteristik mahasiswa (Pannen dan Sadjati, 2005:
16-17). Dengan demikian akan memudahkan mahasiswa dalam menguasai bahan
tersebut, dan dapat mempraktekkan- nya di masyarakat.
Seorang dosen hendaknya
mengetahui faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan
pembelajaran (Sukoco dkk, 2013). Ketertarikan mahasiswa dalam mempelajari bahan
pembelajaran merupakan manifestasi dari perilaku belajar mahasiswa.
Faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan pembelajaran
adalah tingkat kemampuan mahasiswa, keterkaitan- nya dengan pengalaman yang
telah dimiliki oleh mahasiswa, tingkat daya tarik bahan pembelajaran, dan
tingkat kebaruan dan aktualisasi pembelajaran.
e. Metode Pembelajaran
Dalam
pembelajaran orang dewasa, digunakan multi metode. Untuk mem-berhasilkan
pembelajaran semacam ini, apapun metode yang diterapkan seharusnya
mempertimbangkan faktor sarana dan prasarana yang tersedia untuk mencapai
tujuan akhir pembelajaran, yakni agar mahasiswa dapat memiliki suatu pengalaman
belajar yang bermutu. Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan
pembelajaran, harus (1) berpusat pada masalah, (2) menuntut dan mendorong
mahasiswa untuk aktif, (3) mendorong mahasiswa untuk mengemukakan pengalaman
sehari-harinya, (4) menumbuhkan kerja sama, baik antara sesama mahasiswa, dan
antara mahasiswa dengan dosen, dan (5) lebih bersifat pengembangan pengalaman,
bukan merupakan transformasi atau penyerapan materi (Sukoco dkk, 2013).
Pada ceramah
mahasiswa hanya mendengar, bicara sangat terbatas bila ada tanya jawab saja.
Dalam diskusi proporsi mahasiswa berbicara dan mendengarkan seimbang. Dalam
demonstrasi mahasiswa dapat sekaligus mendengar, melihat dan berbicara. Dalam
latihan praktis mahasiswa mendengar, berbicara, melihat dan juga mengerjakan.
Manusia belajar 1% melalui indera perasa, 11% melalui indera peraba, 31%
melalui indera pencium, 11 % melalui indera pendengar, 83 % melalui indera
penglihat. Metode yang hanya mengandalkan indera pendengar biasanya kurang
efektif dibandingkan dengan yang menggabungkan penyampaian melalui indera
pendengar maupun indera penglihat. Manusia belajar lebih efektif apabila dapat
mendengarkan dan berbicara, akan lebih baik apabila di samping mendengarkan dan
berbicara ia juga dapat melihat, dan akan lebih baik lagi apabila di samping
mendengarkan, berbicara, dan melihat ia juga dapat mengerjakan.
F. Sumber
Belajar dan Media Pembelajaran
Menurut hasil
penelitian Penland (dalam Pannen Sadjati, 2005: 22), sumber belajar yang paling
dianggap penting oleh orang dewasa adalah teman (dan/atau keluarga, tetangga).
Hal ini berarti bahwa strategi pembelajaran orang dewasa harus direncanakan
sedemikian rupa sehingga melibatkan interaksi dengan teman yang frekuensinya
cukup banyak.
Yang dianggap
penting setelah teman, adalah pakar atau tenaga ahli atau dosen. Hal ini perlu
diingat oleh dosen, agar bisa menempatkan diri bukan sebagai sumber informasi yang
serba tahu, tetapi lebih menjadi sahabat yang menghargai mahasiswa sebagai
orang dewasa (Pannen dan Sadjati, 2005: 22). Setelah teman dan dosen, orang
dewasa juga menggunakan media cetak dan media non-cetak. Yang termasuk dalam
media cetak antara lain buku, modul, handout, jurnal, bulletin, kamus,
ensiklopedia, booklet, leaflet, chart, foto, surat kabar, dan
majalah. Sedangkan yang termasuk dalam media non cetak antara lain
komputer, laptop, LCD, radio, kaset, slide, film, video,
televisi. Dengan memperhatikan kebutuhan, karakteristik dan gaya belajar
mahasiswa sebagai orang dewasa, maka dosen dapat memilih sumber belajar dan
media pembelajaran yang perlu disediakan dan digunakan dalam pelaksanaan
perkuliahan. Yang perlu diperhatikan dalam pemilihan sumber belajar dan media
pembelajaran adalah bahwa kombinasi beberapa sumber belajar dan media
pembelajaran yang digunakan dengan tepat akan lebih baik daripada penggunaan
satu sumber belajar atau satu media pembelajaran saja.
g. Penilaian
Pembelajaran
Pendekatan
penilaian pembelajaran secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk
diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah
cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Menurut Rhohmad dan Evi
(2014:5) ada hal beberapa yang pokok dalam melaksanakan penilaian hasil belajar
bagi mahasiswa sebagai orang dewasa yakni :
- Penilaian
hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah
mengikuti proses pembelajaran.
- Sebaiknya
penilaian dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh mahasiswa itu
sendiri (Self Evaluation).
- Perubahan
positif perilaku merupakan tokoh ukur keberhasilan pembelajaran.
- Ruang
lingkup materi penilaian “ditetapkan bersama secara partisipatif” atau
berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat.
- Penilaian
ditujukan untuk menilai efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan
pembelajaran yang mencakup kekuatan maupun kelemahan pembelajaran.
- Menilai
efektivitas pembelajaran berkaitan dengan perubahan sikap dan perilaku
mahasiswa.
2. Pelaksanaan
Perkuliahan
Dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran perlu memperhatikan komponen-komponen
pembelajaran seperti tersebut di atas, dengan cara memadukan dan
mengintegrasikan komponen-komponen tersebut. Panen dan Sadjati (2005: 20-21)
menjelaskan bahwa berapapun baiknya perencanaan perkuliahan yang telah dibuat,
sikap fleksibel tetap diperlukan, karena pada saat pelaksanaan perkuliahan
mungkin diperlukan perubahan dari rencana yang sudah ada. Dengan demikian,
dalam pelaksanaan perkuliahan, dosen perlu cepat tanggap jika ada hal-hal yang
tidak dipertimbangkan sebelumnya untuk kemudian dapat segera menyesuaikan
perkuliahan dengan hal-hal tersebut.
Selain itu,
hal lain yang perlu diperhatikan oleh dosen dalam melaksanakan perkuliahan
adalah umpan balik (feedback). Umpan balik ini berguna baik bagi
mahasiswa maupun dosen untuk melanjutkan proses perkuliahan berikutnya. Umpan
balik dari dosen bagi mahasiswa merupakan cara untuk memberi kesempatan kepada
mahasiswa memperbaiki proses belajarnya. Tidak adanya umpan balik dari dosen
dapat menyebabkan mahasiswa frustasi, bosan, dan kehilangan arah. Karena mereka
tidak tahu tentang apa dan di mana kesalahan mereka, mereka tidak tahu apa
kekurangan mereka, mereka juga tidak mengetahui bagaimana posisi mereka
dibandingkan dengan sesama temannya. Oleh sebab itu, umpan balik ini penting
sekali bagi mahasiswa untuk mencapai tujuan belajarnya.
Sebaliknya
umpan balik dari mahasiswa bagi dosen berguna untuk menyesuaikan proses
perkuliahan dan strategi pembelajaran berdasarkan kebutuhan, karakteristik, dan
gaya belajar mahasiswa. Jika dosen tidak mengetahui persepsi mahasiswa tentang
proses perkuliahan yang dijalankan, dosen tidak mengerti apa dan dimana kekurangan
perkuliahan-nya. Umpan balik mahasiswa juga memberi kesempatan kepada dosen
untuk bersikap fleksibel terhadap kebutuhan mahasiswa dan rencana perkuliahan
yang dibuatnya.
C. Penutup
1.
Rangkuman
- Komponen-komponen
yang dapat mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran orang
dewasa terdiri dari: mahasiswa, dosen, tujuan pembelajaran, materi atau
bahan pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, dan media
pembelajaran, serta penilaian pembelajaran.
- Dalam
pelaksanaan perkuliahan diperlukan sikap fleksibel dalam kecepatan dari
dosen untuk menanggapi perubahan yang diperlukan. Selain itu perlu
diperlukan pemberian umpan balik dari dosen bagi mahasiswa, serta
sebaliknya umpan balik dari mahasiswa bagi dosen untuk perbaikan dan
pengembangan belajar dan pembelajaran.
2. Evaluasi
- Identifikasikan
berbagai komponen yang dapat mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan
pembelajaran bagi mahasiswa sebagai orang dewasa.
- Deskripsikan
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan perkuliahan yang efektif.
3. Tindak
Lanjut
Sebagai tindak
lanjut dari bab V, peserta diharapkan menyusun perencanaan pembelajaran pada
salah satu mata kuliah yang diampu peserta, dengan cara memadukan dan
mengintegrasikan berbagai komponen pembelajaran yang dapat mempengaruhi keberhasilan
penyelenggaraan pembelajaran bagi mahasiswa sebagai orang dewasa. Menyusun
perencanaan pembelajaran (bukan RPS) dengan cara memadukan berbagai komponen
pembelajaran internal+eksternal!.
Tentang Penulis
AYYUB HAMDANU BUDI NURMANA.M.S, S.Sn, M.Ds
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.