Sebelum Anda mulai berkreasi
dengan semua hal terkait desain interior, kenali dulu elemen-elemen yang
membentuk sebuah ruang menjadi satu kesatuan yang membuat nyaman, indah
dipandang, serta sesuai dengan konsep dan keinginan Anda. Berikut 7 elemen
penting dalam desain interior:
1. Ruang
Dalam dunia desain interior, kita
memiliki peluang untuk memaksimalkan tiga dimensi ruang, yaitu panjang, lebar,
dan tinggi. Tiga dimensi ruang ini bisa diisi atau dibiarkan kosong, tergantung
pada apa yang ingin Anda dapatkan jika dilihat dari segi fungsionalitas dan
desain.
Ruang bisa dibagi menjadi dua
kategori: ruang positif dan negatif. Ruang positif adalah ruang yang diisi
barang-barang, sementara ruang negatif adalah ruang kosong (jarak antar benda
bisa juga disebut sebagai ruang negatif). Menyeimbangkan kedua jenis ruang
tersebut sangat penting agar tidak terkesan terlalu padat dan juga tidak
terlalu polos.
2. Garis
Garis horizontal, vertikal, dan
dinamis bisa membantu membentuk ruangan dan “memandu” pandangan kita.
Menciptakan garis menggunakan furnitur dan objek-objek serta desain struktural
di dalam ruangan dapat membentuk harmoni, kesinambungan, dan kontras.
Idealnya, desainer interior akan
memberikan keseimbangan dalam memadukan beberapa jenis garis tergantung pada
keinginan klien dan ekspektasi yang ingin dicapai. Misalnya saja, garis-garis
horizontal yang ada pada meja dan permukaan lainnya memberikan kesan stabil,
formal, dan efisien.
Jadi, desainer interior menyorot
garis-garis horizontal untuk membuat ruangan terlihat lebih lebar atau panjang,
dan mengarahkan pandangan pada elemen penting pada ruangan. Namun, terlalu
mengedepankan garis horizontal akan membuat ruangan terlihat membosankan dan
menjemukan. Yang terpenting adalah tetap menjaga agar semua elemen seimbang.
Sementara itu, garis vertikal
yang dihasilkan dari fitur-fitur ruangan seperti jendela dan pintu masuk
memberikan kesan bebas dan kokoh. Dalam tingkatan fungsional, mengedepankan
garis vertikal memberikan ilusi ruangan terlihat lebih tinggi.
Biasanya, garis vertikal diterapkan
pada ruang makan dan kantor. Garis vertikal harus diterapkan dengan berbagai
pertimbangan agar ekspektasi terpenuhi.
Selain itu ada juga garis-garis
dinamis yang merujuk pada garis diagonal, zigzag, atau lengkungan. Garis-garis
tersebut dapat dilihat pada beberapa elemen di dalam ruangan, seperti anak
tangga, yang memberikan energi serta pergerakan pada struktur ruangan.
Dengan kemampuannya menstimulasi
pandangan, garis-garis dinamis dapat menangkap perhatian lebih lama. Tetapi,
terlalu banyak garis dinamis di satu ruangan juga bisa terasa mengganggu serta
dapat mengalahkan kehadiran garis horizontal dan vertikal.
3. Bentuk
Yang dimaksud dengan bentuk di
sini adalah bentuk fisik dari segala sesuatu yang ada di dalam ruangan yang
memiliki tiga dimensi. Bentuk biasanya terdiri dari bentuk geometris dan
natural.
Bentuk geometris biasanya
terdapat pada garis-garis yang menonjol dan sudut-sudut, serta terlihat seperti
buatan manusia. Sebaliknya, bentuk natural adalah bentuk-bentuk organik yang
dibuat oleh alam sehingga bentuknya lebih asimetris. Bentuk bisa berupa
objek-objek terbuka atau tertutup.
Hal lain yang harus
dipertimbangkan dari bentuk adalah proporsi dan skala ruangan yang dibandingkan
dengan objek di dalamnya. Menambahkan benda-benda dengan bentuk yang serupa
akan menciptakan harmoni dan keseimbangan, sedangkan menambahkan terlalu banyak
bentuk yang berbeda akan terasa membingungkan.
Sebuah ruangan akan terlihat
lebih nyaman jika bentuk yang dominan diaplikasikan pada benda-benda kecil di
dalam ruangan tersebut.
4. Pencahayaan
Baik natural atau buatan,
pencahayaan adalah aspek yang sangat penting pada sebuah ruangan. Tanpa
pencahayaan, elemen-elemen lain tidak akan bisa menunjukkan seluruh potensinya.
Pencahayaan bisa dibagi menjadi
beberapa kategori, yaitu pencahayaan sesuai fungsinya (task lighting) ,
pencahayaan untuk aksen (accent lighting), dan pencahayaan untuk menambah
suasana (mood lighting).
Saat mempertimbangkan
pencahayaan, sangat penting bagi kita untuk mempertimbangkan aktivitas-aktivitas
yang akan dilakukan di ruangan tersebut. Baik kualitas dan kuantitas harus
benar-benar dinilai di sini. Sebagai contoh, kantor akan membutuhkan
pencahayaan yang terang sehingga para staf bisa melihat dengan jelas dan
cekatan.
Sebaliknya, pencahayaan ruang
tengah bisa diaplikasikan dengan lebih lembut. Anda bisa memasang peredup
cahaya (dimmer) agar Anda bisa mengatur pencahayaan dalam ruangan sesuai
kebutuhan. Cahaya alami juga harus selalu dipertimbangkan. Penempatan pintu,
jendela, bahkan cermin bisa membantu pencahayaan alami di dalam rumah.
Selain fungsional, pencahayaan
bisa mengatur suasana di dalam ruangan sekaligus menekankan warna, garis, dan
tekstur. Ditambah lagi, desainer interior yang baik dapat mengetahui bahwa
lampu hias adalah fitur visual yang dapat menambah nilai estetis dalam sebuah
desain.
5. Warna
Warna memiliki ilmunya tersendiri
dan merupakan salah satu elemen penting yang harus dikuasai oleh seorang
desainer interior. Warna memiliki kemampuan untuk membangun suasana, menonjolkan
fitur ruangan, serta memberikan ilusi luas ruangan.
Psikologi warna tidak boleh
dipandang sebelah mata dan bisa dimaksimalkan oleh desainer interior yang ahli.
Warna bisa memunculkan kenangan dan mengubah emosi dengan menstimulasi respons
fisik dan psikologis dari tubuh kita.
Contohnya, warna hijau dan biru
memunculkan kesan tenang dan cocok digunakan di dalam kamar tidur, sementara
warna merah dapat mendorong nafsu makan sehingga lebih cocok digunakan di
dapur.
Saat mempertimbangkan warna
sebuah ruangan, pertama-tama, pikirkan tentang aktivitas apa yang akan
dilakukan pada ruangan tersebut. Kedua, pertimbangkan pencahayaan alami dan
artifisial yang akan mempengaruhi warna yang dipilih di saat siang dan malam
hari karena cahaya dapat mempengaruhi persepsi warna.
Selanjutnya, pertimbangkan juga
ukuran ruangan. Desainer interior akan memilih warna yang lebih cerah di
ruangan yang kecil untuk memberikan ilusi ruangan terlihat lebih luas.
Warna-warna tua bisa memberikan dimensi yang kuat untuk ruang yang luas.
6. Tekstur
Tekstur merujuk pada permukaan
taktil pada sebuah objek. Elemen ini cenderung sering terlupakan, tetapi
sebenarnya bisa membawa dimensi yang unik pada ruangan. Seperti halnya
mencampurkan warna dan pola, desainer interior akan menambahkan tekstur pada
sebuah ruangan untuk memperdalam kesan yang diberikan.
Beberapa macam tekstur yang bisa
dipadupadankan adalah glossy, kasar, dan lembut. Tekstur dapat menambahkan
detail dan fokus terhadap furnitur, aksesori, dan kain yang ada di dalam
ruangan sehingga lebih enak dipandang. Secara umum, tekstur memberikan perasaan
pada ruangan.
Tekstur memiliki dua bentuk –
tekstur visual dan aktual. Tekstur visual merujuk pada tekstur yang bisa
dilihat oleh mata. Dengan kata lain, tekstur visual hanya bisa didapatkan oleh
seseorang dengan melihatnya.
Efek ini biasanya bisa ditemukan
pada pola-pola yang ada di ruangan. Tekstur aktual atau taktil bisa dilihat dan
juga diraba dan memiliki karakteristik tiga dimensi. Contohnya, sarung bantal
yang empuk dan berwarna-warni.
Umumnya, jika ada sesuatu yang
dirasa kurang dari sebuah ruangan, interior desain yang ahli akan dapat
mengetahui bahwa yang kurang adalah tekstur. Tekstur memiliki peran pada setiap
benda di dalam ruangan, sehingga akan lebih baik jika kita dapat menyeimbangkan
tekstur ruangan mulai dari lantai hingga atap.
Penempatan setiap objek dan
perbandingannya dengan tekstur objek lain juga dapat menonjolkan kontras pada
desain akhirnya.
7. Pola
Pola memiliki fungsi yang sama
dengan tekstur untuk menambah daya tarik ruangan. Pola diciptakan dari
penggunaan desain yang repetitif dan bisa ditemukan pada wallpaper, furnitur,
karpet, dan kain. Pola memiliki berbagai tipe seperti contohnya garis-garis,
geometris, organik, motif, dan sebagainya.
Saat menambahkan pola, sebaiknya
pertimbangkan ukuran dan gaya ruangan. Jangan terlalu banyak menambahkan pola
di ruangan yang kecil agar ruangan tidak terkesan berlebihan. Pola juga dapat
menciptakan garis-garis vertikal dan horizontal yang dapat digunakan untuk
menambah kesan luas pada ruangan.
Pola-pola kompleks yang terdiri
dari warna dan garis kontras cocok digunakan pada dinding dan dapat membuat
ruangan terlihat lebih hidup. Pola dengan ukuran besar dapat terlihat menarik
di ruangan yang luas dan bisa menjadi sesuatu yang dapat menarik perhatian di
dalam ruangan.
Pola juga dapat menggambarkan
karakter. Jika Anda menyukai ruangan dengan gaya tradisional, pola bunga dan
organik mungkin cocok dengan ruangan Anda. Untuk ruangan dengan gaya
kontemporer, pola geometris dan abstrak akan terasa lebih cocok.
Kunci agar penggunaan pola di
dalam ruangan tetap seimbang dan dapat menambah nilai estetis ruangan adalah
menggunakan skema warna yang sama dan pola yang dipadupadankan tidak lebih dari
tiga pola.