KONSEP DASAR MEDIA PEMBELAJARAN

KONSEP DASAR MEDIA PEMBELAJARAN

A. Pengertian Media Pembelajaran

Pembelajaran sebagai proses interaksi antara siswa dengan guru dan sumber belajar lainnya perlu didukung dengan penggunaan media yang tepat. Oleh karena itu, Anda sebagai calon guru harus mampu mengidentifikasi berbagai jenis media yang tersedia

dan cocok digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran tertentu. Jenis media pada umumnya bisa berupa benda-benda asli yang ada lingkungan sekitar kita ataupun hasil produksi.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai penggunaan media pembelajaran, mari kita sepakati dahulu tentang pengertian media pembelajaran. Istilah media pembelajaran terdiri dari dua kata, “media” dan “pembelajaran”. Secara bahasa, istilah media berasal dari bahasa Latin, yakni medius yang berarti perantara. Dalam bahasa Inggris media adalah bentuk jamak dari kata medium yang berarti pengantar dan saluran. Sementara dalam bahas Arab, sinonim kata media adalah wasa’il yang berarti sarana ataupun jalan (Sadiman, Rahardjo, dan Haryono 2014; Wehr 1974:1069).

Dalam proses komunikasi, media sering diposisikan sebagai channel ataupun saluran komunikasi. Dalam konteks ini, media memiliki peran penting dalam menentukan suksesnya proses transfer informasi di antara dua orang yang sedang berkomunikasi menggunakan media tertentu. Posisi media dalam proses komunikasi dapat digambarkan sebagai sebagai berikut.

Gambar 1.1: Proses komunikasi

Sumber: (Darwanto 2011:19)

Berdasarkan gambar di atas, proses komunikasi dimulai dari saat pengirim pesan merumuskan pesannya dalam format tertentu atau disebut dengan encoding, kemudian pesan tersebut dikirim ke penerima pesan menggunakan saluran komunikasi atau disebut juga dengan media, lalu penerima pesan menafsirkan isi pesan tersebut sesuai dengan kemampuannya atau disebut juga dengan decoding.

Kata kunci kedua yang mengiringi istilah media pembelajaran adalah kata pembelajaran (instruction). Menurut Gagne dkk, pembelajaran adalah rangkaian peristiwa yang terencana dan berorientasi untuk mencapai hasil belajar (Gagne et al. 2005:1–2).

Menurut Undang-undang Republik Indonesia, pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan pengajar dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 2003:2). Sejalan dengan kedua definisi tersebut, Suparman menyatakan bahwa makna pembelajaran meliputi kegiatan belajar dan mengajar (KBM) (Suparman 2012:10).

Berdasarkan paduan dua kata tersebut, dapat dipahami bahwa ruang lingkup media pembelajaran meliputi: bahan, alat, dan saluran yang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar. Batasan pengertian media pembelajaran teersebut antara lain dapat dipahami dari beberapa referensi berikut.

  1. Menurut Kustandi dan Stjipto, media pembelajaran adalah alat yang membantu proses belajar mengajar sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik dan sempurna (Kustandi dan Sutjipto 2011:9).

  2. Menurut Moreira, media pembelajaran adalah instrumen yang digunakan untuk menunjukkan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur agar lebih nyata atau konkret (Moreira, Pereira, dan Gusmão 2018:105).

  3. Menurut Haryadi dan Widodo, media pembelajaran adalah sarana pembelajaran, baik yang bersifat tradisional maupun modern (Haryadi et al. 2019:1; Widodo 2018:159).

Menurut Mashuri, media pembelajaran adalah sesuatu yang menyalurkan materi pelajaran, merangsang pikiran, perasaan, minat, dan perhatian siswa (Mashuri 2019:4).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa media pembelajaran adalah segala bentuk benda dan alat yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. Misalnya, Sebagai contoh, meja adalah sebuah sarana pembelajaran. Namun saat meja digunakan untuk membantu siswa dalam memahami konsep bangun datar maka meja tersebut dapat disebut sebagai media pembelajaran. Begitu juga dengan benda-benda asli dan bendabenda rancangan yang dipersiapkan khusus untuk mendukung kegiatan pembelajaran.

B. Perkembangan Media Pembelajaran

Setelah Anda memahami bahwa pengertian pembelajaran cukup luas maka pada topik ini, penulis akan mengajak Anda untuk membahas tentang perkembangan media pembelajaran agar semakin jelas bagi Anda tentang ragam dan karakteristik media yang digunakan dalam pembelajaran dari masa ke masa.

Perkembangan media pembelajaran memiliki sejarah yang panjang dan perkembangannya dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi, sosial, globalisasi, dan teknologi. Prawiradilaga dan Siregar telah membagi sejarah perkembangan penggunaan media dalam pembelajaran ke dalam tiga fase utama, yaitu sebagai berikut.

  1. Penggunaan gambar sebagai alat bantu mengajar (1920-an)

  2. Penggunaan media audio dalam pembelajaran setelah ditemukannya radio dan teknologi audio (1930-an), dan

  3. Penggunaan media audio visual sebagai sarana komunikasi dalam proses pembelajaran (1944-an) (Prawiradilaga dan Siregar 2008:5–6).

Menurut Suryani, sejarah pengguaan media dalam pembelajaran berdasarkan perkembangan teknologi dibagi ke dalam enam tahap perkembangan, yaitu sebagai berikut.

Gambar 1.2: Sejarah perkembangan media pembelajaran

Sumber: (Suryani, Setiawan, dan Putria 2018)


Berdasarkan gambar di atas, dapat dipahami bahwa penggunaan media gambar dalam proses pembelajaran telah dipengaruhi oleh perkembangan percetakan, teknologi fotografi, telepon, sinematoggrafi, dan gramopon. Sementara penggunaan media audio dalam pembelajaran dipengaruhi oleh perkembangan teknologi radio dan audio. Adapun perkembangan multimedia dipengaruhi oleh perkembangan teknologi televisi, surat kabar digital, teknologi komputer, dan internet.

Menurut Smaldino dkk, format dasar media pembelajaran terdiri dari enam bagian, yaitu: teks, visual, audio, video, perekayasa, dan manusia (Smaldino, Lowther, dan Russell 2012:7). Jika diamati secara seksama, pembagian yang dilakukan oleh Smaldino dkk adalah berdasarkan bentuk fisiknya secara umum, dimana teks adalah media yang berbentuk huruf dan angka, visual berbentuk gambar atau bahan grafis, audio adalah perangkat yang mengeluarkan suara, video mengkombinasikan gambar dan suara secara bersamaan, perekayasa adalah model atau benda manipulatif tiga dimensi yang bisa disentuh langsung, dan manusia adalah contoh makhluk hidup yang dapat menjelaskan sesuatu baik secara verbal ataupun non verbal.

Selain enam jenis media tersebut, Muhammad Yaumi juga telah mengungkapkan dua jenis media lain, yaitu realia (benda nyata) dan multimedia (Muhammad Yaumi 2018:11–12). Benda nyata dimasukkan sebagai media karena tumbuhan, hewan, dan benda-benda alam juga sering digunakan dalam proses pembelajaran. Adapun multimedia sendiri memiliki makna yang lebih luas dibanding video. Multimedia terdiri dari multimedia linier seperti video, dan multimedia interaktif seperti aplikasi pembelajaran, web, dan dunia virtual (Bates 2019:334).

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa jenis-jenis media pembelajaran terdiri dari tujuh bagian, yaitu sebagai berikut.

Gambar 1.3: Ragam Media Pembelajaran

Pengertian dari masing-masing jenis media pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Benda nyata (realia), yaitu benda nyata yang dapat diamati manusia, seperti tumbuhan, hewan, dan lainnya.

  2. Manusia, yaitu orang yang diminta untuk menyampaikan ataupun mendemonstrasikan suatu suatu informasi, seperti reporter dan instruktur senam.

  3. Model, yaitu benda tiruan yang bersifat tiga dimensi sehingga dapat disentuh langsung oleh penggunanya, seperti miniatur ka’bah, globe, dan lainnya.

  4. Teks, yaitu rangkaian huruf atau angka, seperti buku teks, buku cerita, dan lainnya.

  5. Visual, yaitu bahan grafis yang menyampaikan informasi lewat indra penglihatan, seperti gambar dan bagan.

  6. Audio, yaitu perangkat yang menyampaikan informasi lewat indera pendengaran, seperti MP3 player, radio, audio cast, dan lainnya, dan

  7. Multimedia, yaitu media hasil teknologi komputer yang mampu merangkai dan mengintegrasikan media audio, teks, dan gambar bergerak ke dalam sebuah produk, seperti video, aplikasi pembelajaran, animasi, simulasi, web, kelas virtual, dan lainnya.

Menurut Azhar Arsyad dalam kutipan Yaumi, ada empat alasan pentingnya penggunaan media dalam pembelajaran, yaitu: 

(1) meningkatkan mutu pembelajaran, (2) tuntutan paradigma baru, (3) memenuhi kebutuhan pasar, dan (4) visi pendidikan global (Muhammad Yaumi 2018:13–14). Disamping itu, urgensi penggunaan media pembelajaran juga dapat ditinjau dari pengaruhnya terhadap sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa, pengaruhnya terhadap kemampuan pengajar dalam mengajar, dan pengaruhnya dalam menciptakan suasana pembelajaran tertentu.

1. Meningkatkan Kemampuan Pendidik

Peran media dalam pendidikan dapat menjadi objek dan alat. Media sebagai objek berarti media pembelajaran dapat digunakan sebagai sumber belajar. Dalam hal ini, pendidik dapat mempelajari berbagai disiplin ilmu pengetahuan menggunakan media pembelajaran. Sementara media sebagai alat dapat digunakan pendidik untuk berkonsultasi dengan pakar pendidikan dan untuk alat bantu mengajar.

Sebagai contoh, pengajar dapat menggunakan video tutorial sebagai bahan belajar dan menggunakan media sosial ataupun teleconference untuk berdiskusi dengan pakar pendidikan.

Disamping itu, pengajar juga dapat memanfaatkan benda nyata, benda manipulatif, bahan grafis, bagan, dan video sebagai alat bantu dalam menjelaskan materi pelajaran.

Dengan demikian, pendidik tidak cukup hanya sebatas mampu menggunakan berbagai perangkat media, tetapi juga harus mengetahui dan menyadari bagaimana cara menggunakan media tersebut secara bijak, produktif dan positif. Pentingnya peningkatan kemampuan pendidik dalam berkomunikasi lewat media dan memanfaatkan media dalam pembelajaran juga telah dipertegas oleh salinan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi dan Kualifikasi Guru.

2. Meningkatkan Mutu Pembelajaran

Berbagai laporan penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran berpengaruh terhadap mutu pembelajaran. Salah satu alasan rasional mengapa penggunaan media pembelajaran berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran adalah karena media pembelajaran dapat digunakan untuk mengaktifkan berbagai jenis alat indera siswa dalam proses pembelajaran. Daryanto dalam kutipan Suryani dkk menjelaskan bahwa prosentase kemampuan daya serap manusia dari penggunaan alat indranya adalah sebagai berikut.

Gambar 1.4: Kemampuan daya serap manusia

Sumber: (Suryani et al. 2018:28)

Sejalan dengan penjelasan Daryanto, Rapidhe dalam kutipan Yaumi telah melaporkan bahwa dampak dari aktivitas belajar siswa terhadap perkembangan kemampuannya adalah sebagai berikut.

Gambar 1.5: Pengaruh Aktivitas Belajar dengan Hasil Belajar

Sumber: (Muhammad Yaumi 2018:13)

Pentingnya penggunaan media pembelajaran juga didukung oleh teori kognitif Bruner. Menurut Bruner, tingkatan modus belajar dimulai dari pengalaman langsung (enactive), pengalaman melalui gambar (iconic), dan menuju pada pengalaman abstrak (symbolic) (Kustandi dan Sutjipto 2011:16). Dalam hal ini, pendidik dapat menggunakan benda nyata untuk memberikan siswa pengalaman langsung (enactive), selanjutnya pendidik dapat menggunakan media gambar atau benda manipulatif untuk memberikan pengalaman melalui gambar (iconic), dan pendidik dapat menggunakan buku cetak atau simbol-simbol rumus untuk memberikan pengalaman abstrak (symbolyc).

Dasar penggunaan media pembelajaran tersebut juga telah ditegaskan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan ini telah menekankan agar setiap satuan pendidikan memiliki media pendidikan. Selain itu, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah juga telah mendorong pendidik untuk menggunakan media dalam proses pembelajaran.

3. Memenuhi Kebutuhan Siswa

Kebutuhan siswa terdiri dari kebutuhan psikologis dan biologis. Dari aspek psikologis, perkembangan inteligensi/ kognitif manusia menurut Piaget terjadi melalui empat tahapan, yaitu:

  1. Sensori motor (0-2 tahun), yaitu tahap dimana intelligensi/ kognitif anak tampil sebagai respons terhadap sensor indra. 

  2. Praoperasional (2-7 tahun), yaitu tahap dimana inteligensi/ kognitif anak tampil dalam bentuk intuisi (kata hati) dan dan belum berpikir secara rasional.

  3. Operasi konkret (7-11 tahun), yaitu tahap dimana inteligensi/ kognitif anak telah mampu berpikir logis dan rasional terhadap kejadian dan peristiwa yang konkret.

  4. Operasi formal (12 tahun sampai dewasa), yaitu tahao dimana inteligen/ kognitif anak telah mampu berpikir abstrak, mengajukan hipotesis, dan memprediksi sesuatu (Jamaris 2015:151)

  5. Berdasarkan teori Piaget tersebut dapat dipahami bahwa

media pembelajaran sangat diperlukan untuk merangsang pikiran dan emosi manusia, khususnya ketia ia berusia di bawah 12 tahun.

Selain itu, media pembelajaran dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan minat, jenis kecerdasan, dan preferensi cara belajar siswa. Dalam konteks ini, media dapat digunakan untuk menyederhanakan materi yang kompleks (simpling), memperjelas materi yang abstrak (semantic), mendeskripsikan sesuatu yang tidak terjangkau (manipulative), meningkatkan daya imajinasi, dan meningkatkan perhatian siswa (Arsyad 2014:20).

Sebagai contoh, konsep bilangan dapat dijelaskan menggunakan benda nyata, materi sistem tata surya dapat disederhanakan dengan poster ataupun video, letak suatu tempat dapat dideskripsikan dengan globe/peta, peristiwa masa lampau dapat dideskripsikan dengan animasi, dan perhatian siswa dapat ditingkatkan menggunakan gambar yang menarik. 

Adapun dari aspek bilogis, penggunaan media pembelajaran dapat melatih psikomorik siswa dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran, seperti mengamati, mengumpulkan informasi, menganalisis, mencoba, dan mengkomunikasikan informasi yang telah diperolehnya 

4. Memenuhi Tuntutan Paradigma baru

Paradigma baru pendidikan telah mendorong pendidik untuk menjadi perancang, fasilitator, motivator, dan pengelola pembelajaran. 

Dalam hal melaksanakan tugas tersebut, pengajar tidak boleh menjadi orang yang paling dominan dalam proses pembelajaran. Sebab, secepat apapun pendidik dalam menyajikan materi pelajaran maka akan kalah cepat dengan kecepatan siswa melupakan materi pelajaran tersebut. Oleh karena itu, paradigma baru pendidikan telah mengharuskan pendidik untuk memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada siswa untuk aktif mengalami aktivitas belajar.

Pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada siswa atau dikenal dengan student centered learning harus didukung dengan media dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Misalnya, metode pembelajaran berbasis masalah harus didukung dengan bahan masalah yang valid dan terukur, begitu juga dengan pembelajaran berbasis proyek harus didukung dengan media yang diperlukan siswa dalam membuat proyek yang ditentukan.

5. Memenuhi Kebutuhan Pasar

Perkembangan kebutuhan pasar atau dunia kerja sekarang ini telah semakin luas akibat mobilisasi teknologi. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar praktik pembelajaran yang diterpakan sekolah dapat menghasilkan lulusan yang melek teknologi dan dapat mengikuti perkembangan zaman.

Salah satu cara memperkenalkan teknologi kepada siswa adalah dengan memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran secara tidak langsung akan mendorong siswa untuk mendalami cara penggunaan teknologi yang dibutuhkannya. Seperti kelas virtual, augmented reality, dan lain sebagainya. 

D. Teknik Memilih Media Pembelajaran

Sebagai pendidik dan calon pendidik, Ada tentu telah menyadari bahwa ada banyak sekali jenis media yang dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran. Namun demikian, Anda harus menyadari bahwa tidak ada media yang cocok digunakan untuk semua situasi dan kondisi pembelajaran. Oleh karena itu, Anda harus kritis dalam memilih media pembelajaran agar penggunaan media pembelajaran tersebut berjalan lancar dan memberikan pengaruh yang baik bagi proses pembelajaran. 

Sebagai contoh, kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk mendeskripsikan sebuah gerakan akan lebih baik jika menggunakan media video daripada media gambar diam dan katakata. Akan tetapi, penggunaan video dalam pembelajaran harus didukung dengan piranti pemutar video, dan rancangan pembelajaran yang mendorong partisipasi dan perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang disajikan melalui video tersebut.Efektifitas penggunaan media dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor. Oleh karena itu, Anda harus cermat dalam memilih media pembelajaran agar Anda dapat menemukan media pembelajaran yang tepat untuk memfasilitasi kebutuhan belajar siswa, sesuai dengan kondisi lingkungan belajar siswa, dan efektif dalam meningkatkan semangat belajar siswa.

Para pakar pendidikan telah banyak memaparkan beberapa model yang dapat dijadikan sebagai panduan dalam memilih media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi lingkungan belajarnya. Salah satu model yang sering digunakan sebagai panduan dalam memilih media pembelajaran adalah model SECTIONS. Model ini merupakan hasil temuan Bates dalam buku Teaching in Digital Age.

Menurut Bates, ada delapan faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih media pembelajaran, yaitu sebagai berikut.

S = Student (siswa)

E = Ease of use (mudah digunakan)

C = Cost/ time (biaya/ waktu)

T = Teaching (karakteristik media dan metode pembelajaran)

I = Interaction (interaksi)

O = Organizational issue (pengelolaan masalah)

N = Networking (memperluas jaringan)

S = Security and privacy (keamanan dan privasi) (Bates 2019:459–60).

1. Student (Siswa)

Kondisi siswa harus menjadi pertimbangan utama pengajar sebelum mempertimbangkan faktor-faktor lainnya. Hal tersebut karena media pembelajaran adalah alat bantu pengajar dan siswa dalam melaksanakan aktivitas belajar dan mengajar. Beberapa hal yang harus diketahui oleh pengajar terkait dengan siswa antara lain adalah kemampuan awal, minat dan kebutuhan, daya akses, dan gaya belajarnya.

Gambar 1.6: Karakteristik Siswa

Pertama, kecakapan dasar siswa sangat mempengaruhi kesiapan siswa dalam mengikuti suatu proses pembelajaran.

Seperti kemampuan siswa dalam membaca, menggunakan suatu alat, dan pengetahuan awalnya terkait dengan materi pelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu, pengajar harus menganalisis kemampuan awal siswa sebelum memutuskan untuk memilih jenis media pembelajaran yang akan diterapkannya. Sebagai contoh, jika siswa telah memiliki sedikit pengetahuan awal terkait dengan materi pelajaran yang diajarkan maka pengajar dapat meningkatkan pemahaman siswa menggunakan media cetak atau benda manipulatif. Akan tetapi, jika siswa sama sekali tidak memiliki pengetahuan awal terkait dengan materi pelajaran maka pengajar disarankan untuk menggunakan benda nyata atau media visual yang dapat mendeskripsikan materi pelajaran secara nyata.

Kedua, kebutuhan dan minat siswa terhadap suatu skenario pembelajaran juga akan berpengaruh terhadap keberhasilan suatu proses pembelajaran. Semakin butuh dan tertarik siswa terhadap suatu pembelajaran maka akan semakin cepat siswa mengadopsi materi pelajaran. Oleh karena itu, pengajar harus menggunakan metode pembelajaran yang disukai siswa dengan bantuan media pembelajaran yang relevan. Misalnya, mengajarkan materi geometri dengan metode observasi dan menggunakan sarana dan prasarana sekolah sebagai medianya.

Ketiga, daya akses yang dimaksud adalah kemampuan siswa untuk menggunakan media pembelajaran yang diterapkan. Dalam hal ini, pengajar harus mengidentifikasi apakah media pembelajaran tersebut hanya dapat memfasilitasi proses belajar individu saja, atau kelompok kecil, atau orang banyak. Selain itu, pengajar juga harus mempertimbangkan apakah media pembelajaran yang dipilih dapat digunakan siswa dengan baik untuk meningkatkan kompetensinya.

Keempat, gaya belajar siswa perlu dipahami untuk memahami cara belajar yang disukai oleh siswa. Dalam hal ini, pengajar harus menganalisis jenis media pembelajaran yang cocok dengan preferensi persepsi siswa, jenis kecerdasan siswa, dan pola belajar yang disukai siswa. Misalnya, siswa yang senang belajar dengan musik dapat menggunakan media audio dengan metode bernyanyi.

Sementara siswa yang senang belajar melalui tutorial dapat menggunakan media video dengan metode simulasi. Adapun beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan terkait dengan siswa adalah sebagai berikut.

  1. Apa kebijakan institusi pendidikan terkait dengan peningkatan akses siswa terhadap media pembelajaran? Misalnya, memberikan pelatiha.

  2. Bantuan apa yang diberikan oleh institusi pendidikan ketika ada siswa yang tidak memiliki akses ke media pembelajaran yang dipilih? Misalnya, meminjamkan komputer atau memberikan fasilitas internet gratis.

  3. Seberapa tepatkah media pembelajaran yang dipilih pengajar dapat digunakan oleh siswa dengan baik? Misalnya, siswa merasa senang atau mudah dalam menggunakannya.

  4. Apa perangkat yang cenderung digunakan oleh siswa untuk mengakses media secara teratur ketika mereka di rumah atau di luar kampus? Misalnya, Laptop, Smartphone, atau Tablet.

  5. Bagaimana kebijakan institusi atau pengajar terkait dengan penggunaan perangkat teknologi di dalam kelas? Misalnya, bebas, terbatas, dan tidak boleh sama sekali. 6) Apakan kompetensi prasyarat yang harus dikuasai siswa agar ia dapat mempelajari materi pelajaran yang disajikan melalui media pembelajaran yang dipilih?

  6. Apakah siswa perlu diberikan orientasi tentang penggunaan media pembelajaran yang dipilih?

  7. Apakan media pembelajaran yang dipilih dapat memfasilitasi gaya belajar siswa?

2. Ease of Use (Mudah digunakan)

Kepraktisan sebuah media pembelajaran perlu dipertimbangkan karena semakin mudah penggunaan media pembelajaran maka akan semakin besar penerimaan siswa terhadap media tersebut. Kemudahan media pembelajaran antara lain dapat dinilai dari segi aspek bentuk fisiknya mudah dipindah-pindah, antar muka penggunanya bagus, cara mengoperasikannya ringkas, dan pengguna difasilitasi dengan pelatihan atau buku petunjuk penggunaan.

Gambar 1.7: Aspek yang berkaitan dengan mudah digunakan

Penilaian tingkat kemudahan media pembelajaran dapat dilakukan dengan cara meminta beberapa siswa untuk menggunakan dan menilai beberapa media pembelajaran yang berbeda. Misalnya, antara buku cetak dengan buku digital, antara video rekaman dengan video langsung (live video). Jika diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan menggunakan jenis media pembelajaran tertentu, maka pengajar harus memberikan pelatihan kepada siswa sebelum menggunakan media pembelajaran tersebut di kelas. 

Beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan terkait dengan kemudahan penggunaan media adalah sebagai berikut. 

  1. Bagaimana tingkat kemudahan media pembelajaran tersebut dalam perspektif siswa dan pengajar ?

  2. Apakah media pembelajaran tersebut memiliki antarmuka yang bagus dan familiar bagi pengajar dan siswa?

  3. Apakah pengajar dapat dengan mudah memperbaharui konten media pembelajaran tersebut?

  4. Apakah pengajar memiliki fasilitas bantuan teknis terkait dengan cara menggunakan dan mengembangkan konten media pembelajaran tersebut?

  5. Apakah siswa perlu diberikan orientasi sebelum menggunakan media pembelajaran tersebut?

3. Cost (Biaya)

Biaya merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih media pembelajaran. Menurut Bates, beberapa biaya yang harus dipertimbangkan adalah: biaya peralatan yang diperlukan untuk memproduksi media pembelajaran (hardware dan software), biaya jasa pengajar dalam merancang materi media pembelajaran, biaya untuk membeli atau mencari bahan-bahan yang tidak melanggar hak cipta, seperti foto, musik, dan lainnya, dan biaya konsultasi dengan pakar terkait dengan kelayakan suatu media pembelajaran.

Gambar 1.8: Aspek yang berkaitan dengan biaya

Institusi pendidikan atau pengajar yang ingin menggunakan media pembelajaran harus menghitung semua biaya yang diperlukan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam media pembelajaran.

Menurut Bates, beberapa komponen biaya yang perlu diperhatikan oleh pengajar saat memilih media pembelajaran adalah sebagai berikut.

Tabel 1.1: Biaya Penggunaan Media Pembelajaran

Selain mengacu pada tingkat biaya yang disebutkan di tabel, pengajar juga dapat menekan biaya pengembangan media pembelajaran dengan memanfaatkan beberapa jenis media pembelajaran

gratis. Seperti video Youtube, LMS Google Classroom dan Moodle, dan sebagainya.

4. Teaching and Media Selection (Relevansi dengan pembelajaran)

Pemilihan media pembelajaran harus memperhatikan ilmu pembelajaran agar media pembelajaran yang dipilih sesuai dengan tujuan, metode, lingkungan, dam prinsip-prinsip ilmu pembelajaran. Robert Talbert’s dalam kutipan Bates telah mengemuka- kan empat prinsip yang harus diperhatikan oleh pengajar saat memilih dan menggunakan media audio visual, yaitu sebagai berikut

  1. Penyajian materi di setiap halaman media harus fokus pada satu ide pokok agar tampilannya menarik dan siswa dapat dengan cepat memahami isi pesan tersebut.

  2. Durasi waktu penggunaan media jangan terlalu lama. Jika materi yang ingin disampaikan cukup banyak maka sebaiknya dibagi menjadi beberapa bagian agar perhatian siswa dapat dimaksimalkan dan siswa bisa istirahat setiaps selesai mempelajari satu bagian. Sebagi contoh, panjang durasi video pembelajaran idealnya adalah 5-6 menit atau maksimal 20 menit.

  3. Materi media pembelajaran harus valid dan tampilannya mampu mendeskripsikan materi dengan pendekatan yang konkret dan kontekstual.

  4. Kualitas gambar dan audio pada media pembelajaran harus dapat terbaca dan terdengar dengan baik (Bates 2019:487).

Dari beberapa prinsip tersebut dapat dipahami bahwa proses perancangan media pembelajaran harus memperhatikan kebutuhan siswa dan komponen-komponen pembelajaran sehingga media pembelajaran tersebut efektif dalam memfasilitasi proses belajar dan mengajar. Sebagai contoh, materi pelajaran yang bersifat prosedural sebaiknya disajikan dengan video agar prosedur

tersebut dapat dipahami dengan baik.

Gambar 1.9: Aspek yang berkaitan dengan pembelajaran

Beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan terkait dengan pemilihan media dan pembelajaran adalah sebagai berikut.

1) Apa media yang tepat untuk mengembangkan kompetensi yang ingin dicapai?

2) Apa media yang tepat untuk menyajikan materi pelajaran tertentu?

3) Apa media yang tepat disandingkan dengan metode pembelajaran tertentu?

4) Apakah kualitas media telah sesuai dengan prinsipprinsip ideal sebuah media?

5. Interaction (Interaksi)

Interaksi adalah fitur media dalam memfasilitasi proses interaksi antara siswa dengan guru, sesama siswa, dan dengan sumber belajar. Interaksi yang baik adalah interaksi antar persona dimana siswa dan pengajar sama-sama aktif. Oleh karena itu, media pembelajaran sebagai alat bantu belajar dan mengajar sebaiknya memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi dengan sumber belajar, baik media, guru, siswa, dan pakar.

Sebagai contoh, pengajar dapat menggunakan forum atau grup obrolan untuk meningkatkan jumlah interaksi siswa dengan guru atau antar siswa di luar waktu pembelajaran. Demikian juga ketika pengajar tidak bisa bertemu langsung dengan siswa maka ia dapat menggunakan media live video untuk menghubungi siswa melalui panggilan video. Selain untuk memfasilitasi interaksi anatara siswa dengan pengajar, interaksi media pembelajaran juga dapat dinilai dari sejauh mana ia dapat dikontrol dan dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Gambar 1.10: Media Komunikatif (Dua arah)

Berdasarkan gambar di atas dapat dipahami bahawa fitur interaksi dalam sebuah media pembelajaran dapat meningkatkan interaksi pembelajaran antara pengajar dengan siswa atau atau sesama pengajar. Penyampaian pesan melalui media pembelajaran harus dirumuskan dengan menarik dan jelas (encoder) sehingga mudah dipahami oleh siswa (decoder). Sebagaimana interaksi langsung, interaksi melalui media pembelajaran juga harus disertai dengan umpan balik agar pengajar dapat mengetahui sejauhmana penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.

Beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan terkait dengan interaksi adalah sebagai berikut.

1) Apa saja media yang dapat memfasilitasi proses interaksi dalam pembelajaran?

2) Apakah fitur interaksi media yang dipilih dapat meningkatkan kompetensi siswa?

3) Apakah fitur interaksi media yang dipilih dapat memenuhi kebutuhan siswa?

6. Organizational Issue (Pengelolaan masalah)

Pengelolaan masalah yang mungkin terjadi akibat penggunaan media pembelajaran harus dipertimbangkan agar media pembelajaran tersebut dapat digunakan dengan baik. Beberapa isu yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah literasi digital warga sekolah, teknologi dan sumber belajar yang tersedia, dana untuk pengembangan media pembelajaran, dan kreatifitas pengajar dalam pengembangan media pembelajaran.

Gambar 1.11: Aspek yang berkaitan dengan pengelolaan masalah

Beberapa pertanyaan yang harus dipertimbangkan terkait dengan pengelolaan masalah adalah sebagai berikut.

  1. Apa saja bantuan yang diberikan oleh institusi pendidikan untuk meningkatkan kompetensi warga sekolah dalam menggunakan media pembelajaran?

  2. Apakah bantuan yang diberikan oleh institusi pendidikan mudah diakses/ diperoleh?

  3. Apa fasilitas yang telah disediakan oleh institusi pendidikan untuk mendukung penggunaan beberapa jenis media pembelajaran terbaru?

  4. Apakah institusi pendidikan telah memiliki dana khusus untuk pengembangan media pembelajaran di setiap mata pelajaran?

  5. Apakah para pengajar memiliki kreatifitas dan motivasi belajar yang tinggi?


Contoh Media Pembelajaran Interaktif

Dalam kegiatan pembelajaran, media interaktif kerap digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah guru dalam mengajarkan materi kepada murid. 

Selain sistemnya yang interaktif, media yang satu ini memang merupakan favorit bagi sebagian anak-anak. Apalagi, jika media tersebut dikemas dalam bentuk permainan yang lucu dan interaktif. Secara tidak langsung, anak-anak tidak hanya terhibur, namun juga belajar dalam satu aktivitas.

Tujuan dan Manfaat Menggunakan Media Pembelajaran Interaktif

Pada dasarnya, media pembelajaran interaktif tidak dibuat hanya sekedar untuk memanfaatkan teknologi semata. Selain penggunaannya yang hemat waktu, materi yang dijelaskan dapat dibahas secara lebih mendalam namun tetap menyenangkan. Berikut beberapa tujuan dan manfaat yang didapat dari media pembelajaran interaktif:

1. Membuat Pelajar Lebih Tertarik Dengan Materi

Terkadang, beberapa pelajaran seperti Matematika cukup terdengar membosankan bagi sebagian murid. Dengan menggunakan media interaktif seperti permainan komputer, murid akan menjadi tertarik dengan materi yang diajarkan. Alhasil, murid akan lebih antusias untuk belajar materi tersebut di pertemuan selanjutnya.

2. Membuat Materi Dipahami Secara Serentak

Tidak semua pelajar dapat mendengar penjelasan dari guru dengan jelas. Seorang guru, juga belum tentu dapat mengajarkan seluruh materi secara merata. Karenanya, dengan menggunakan beberapa contoh media interaktif di atas, pelajar dapat kembali mengulang-ulang topik apabila masih belum mengerti.

3. Menghemat Waktu dan Tenaga

Mengetahui bagaimana padatnya aktivitas jam sekolah, seorang pengajar dituntut untuk dapat menggunakan jam mengajar secara efisien. Dengan menggunakan media interaktif, pengajar dapat menghemat waktu dan tenaga yang tidak perlu digunakan. Pengajar juga dapat menggunakan media kembali untuk kelas lain.



4. Meningkatkan Kualitas Dari Materi Yang Diajarkan

Dalam pembelajaran, kualitas merupakan hal terpenting yang harus dijaga tingkatannya. Karena itu, dengan menggunakan media interaktif, pengajar dapat menambah kualitas dari materi yang diajarkan kepada murid. Murid juga dapat melakukan cross-check pada beberapa situs edukasi untuk materi yang ingin dibahas.

5. Praktis Digunakan Kapan Saja

Media interaktif berupa aplikasi edukasi, dapat digunakan bagi para murid di luar jam sekolah. Materi yang tidak sempat dibahas di sekolah, dapat diajarkan kembali secara lebih luas dan merata. Pelajar yang tidak sempat hadir karena sakit atau urusan tertentu, juga dapat mengakses aplikasi dengan mudah.

Contoh Media Pembelajaran Interaktif

Saat ini, ada beragam media interaktif yang dipakai dalam pembelajaran baik di sekolah dasar maupun menengah ke atas. Dikarenakan sebagian media membutuhkan budget besar, tidak semua lembaga mampu menyediakan semua media interaktif. Berikut contoh media pembelajaran interaktif yang mudah diakses:

1. Media Permainan Komputer

2. Media Interaktif Video

3. Media Interaktif Audio

4. Media Situs Edukasi

5. Media Aplikasi Belajar

Di zaman modern ini, sudah tersedia beberapa software atau aplikasi khusus belajar. Pengajar dapat mencoba memberikan aplikasi belajar bagi para murid untuk mempelajari materi yang cocok. Tetapi, pengajar harus memastikan dahulu apakah semua murid yang ikut memiliki gadget yang sesuai.


TAG

Tidak ada tag yang tersedia