Makna Referensial Ideasional dan Tingkah Laku
FITRO NUR HAKIM S.Sn, M.Sn
21 April 2022
Alex Sobur
Tampaknya, teori Referensial telah menemukan suatu cara yang mudah untuk menjelaskan masalah makna.
Teori acuan ini menarik perhatian sejumlah besar ahli teori, sebab seolah-olah
memberikan suatu jawaban atau pemecahan yang sederhana yang mudah diterima menurut,
cara-cara berpikir alamiah tentang masalah makna. Kita dapat mengenali makna
suatu istilah atau ungkapan, dan juga berdasarkan hubungan antara istilah atau
ungkapan itu dengan sesuatu yang diacunya.
Banyak yang
manganggap bahwa nama diri mempunyai struktur semantis yang terang. Kata ‘si
manis’ atau ‘si belang", misalnya, mempunyai makna atau arti karena
mengacu pada seekor kucing. Banyak contoh serupa yang kita terapkan dalam teori acuan yang
diletakkan pada Jenis acuan yang konkret seperti itu. Dalam nama diri
tersebut, makna kata si manis atau si belang mengandung makna karena memberi nama kepada
sesuatu, yaitu si manis sebagai ganti seekor kucing. Jadi, kata-kata itu
mengandung makna lantaran secara sederhana didasarkan pada fakta bahwa
kata-kata itu merupakan nama seekor kucing.
Teori Ideasional, teori
ideasional merupakan salah satu jenis teori makna yang menawarkan alternatif
lain untuk memecahkan masalah makna ungkapan. Teori ideasional ini
adalah suatu jenis teori makna yang mengenali atau mengidentifikasi makna
ungkapan dengan gagasan-gagasan yang berhubungan dengan ungkapan tersebut. Dalam
hal ini, teori ideasional menghubungkan makna atau ungkapan dengan suatu ide
atau representasi psikis yang ditimbulkan kata atau ungkapan tersebut kepada
kesadaran. Atau dengan kata lain, teori ideasional ini mengidentifikasi makna ungkapan dengan
gagasan-gagasan atau ide-ide yang ditimbulkan E (Espression). Jadi, pada
dasarnya teori ideasional meletakkan gagasan (ide) sebagai titik sentral yang
menentukan makna suatu ungkapan.
Teori ini
melatarbelakangi pola berpikir orang mengenai bahasa sebagai suatu makna atau
alat (instrumen) bagi komunikasi pikiran atau gagasan, atau sebagai suatu gambaran fisik
dan eksternal dari suatu keadaan internal, atau bilamana orang menetapkan suatu
kalimat sebagai suatu rangkaian kata-kata yang mengungkapkan suatu pikiran
yang lengkap. Bahasa hanya dipandang sebagai alat atau instrumen dan gambaran
lahiriah dari pikiran atau gagasan manusia.
Menurut Pateda, makna
ideasional adalah makna yang muncul akibat penggunaan kata yang memiliki
konsep. Katakanlah ada kata partisipasi, orang mengerti
ide apa yang hendak ditonjolkan di dalam kata partisipasi. Orang mencari
maknanya di dalam kamus, orang mendengar penggunaan kata partisipasi.
Berdasarkan pembacaan, kenyataan dalam komunikasi, orang mencari ide yang
terdapat di dalam kata partisipasi.
Salah satu ide yang
terkandung di dalam kata partisipasi, ialah aktivitas maksimal seseorang untuk
ikut di dalam suatu kegiatan. Dalam pandangan Pateda, dengan mengetahui ide
yang terkandung di dalam kata tersebut, orang dapat memikirkan bagaimana cara
memotivasi seseorang untuk berpartisipasi, prasyarat-prasyarat apa yang harus
dipersiapkan atau dipenuhi oleh seseorang untuk berpartisipasi, sanksi apa
yang dapat diberikan kalau seseorang tidak berpartisipasi. Ini semua, kata
Pateda, merupakan penalaran kita terhadap makna ideasional yang terkandung di
dalam kata partisipasi.
Teori Tingkah Laku menurut Altson,
merupakan salah satu jenis teori makna mengenai makna suatu kata atau ungkapan
bahasa dengan rangsangan- rangsangan (stimuli) yang menimbulkan ucapan
tersebut, dan atau tanggapan-tanggapan (responses) yang ditimbulkan oleh ucapan
tersebut. Teori ini menanggapi bahasa sebagai semacam kelakuan yang,
mengembalikannya kepada teori stimulus dan respons. Makna, menurut teori ini,
merupakan rangsangan untuk menimbulkan perilaku tertentu sebagai respons kepada
rangsangan itu tadi.
Terdapat beberapa
kesamaan prinsip di antara teori tingkah laku ini dengan teori ideasional.
Pertama, teori tingkah laku juga memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang
terlibat dalam penggunaan bahasa di dalam komunikasi. Kedua, teori tingkah laku
ini juga mengandaikan adanya situasi dan tanggapan tertentu yang umum sifatnya
dan selalu sama manakala kata atau ungkapan bahasa itu dikatakan mempunyai
makna yang sama. Perbedaannya, teori tingkah laku ini lebih memfokuskan
perhatiannya pada aspek- aspek yang dapat diamati di depan umum dan situasi
komunikasi.
Brodbeck (1963)
juga menyajikan teori makna dengan cara yang cukup sederhana. Ia menjernihkan
pembicaran ihwal makna dengan membagi makna tersebut kepada tiga corak.
1.
Makna yang pertama adalah makna
inferensial, yakni makna Satu kata (lambang) adalah objek, pikiran, gagasan,
konsep yang dirujuk oleh kata tersebut. Proses pemberian makna
(reference process) terjadi ketika kita menghubungkan lambang dengan yang
ditunjukkan lambang (disebut rujukan atau referen). Satu lambang dapat menunjukkan
banyak rujukan. “Jari-jari” dapat menunjukkan setengah diameter, bagian dari
roda sepeda, atau bagian tangan. Atau satu rujukan diwakili oleh berbagai
lambang. Kain yang menutup tubuh kita disebut baju, pakaian, sandang, atau
busana.
2.
Makna yang kedua menunjukkan arti
(significance) suatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep yang lain.
Kata-kata tidak menjadi berarti karena penemuan-penemuan baru yang menunjukkan
kesalahan konsep yang lama.
3.
Makna yang ketiga adalah makna
intensional, yakni makna yang dimaksud deh seorang pemakai lambang. Makna yang
menekankan maksud pembicara (misalnya: saya minta roti; saya mau menyimpan
roti; saya akan memberi roti). Makna ini tidak terdapat pada pikiran orang,
hanya dimiliki dirinya saja. Dua makna intensional boleh jadi serupa tetapi
tidak sama.
Tentang Penulis
FITRO NUR HAKIM S.Sn, M.Sn
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.