S1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas STEKOM
MENU NAVIGASI
Beranda / Artikel / Informasi
Informasi 547 dibaca

Makna Referensial Ideasional dan Tingkah Laku

F

FITRO NUR HAKIM S.Sn, M.Sn

21 April 2022

Bagikan:
Makna Referensial Ideasional dan Tingkah Laku

Alex Sobur

Tampaknya, teori Referensial telah menemukan suatu cara yang mudah untuk menjelaskan masalah makna. Teori acuan ini menarik perhatian sejumlah besar ahli teori, sebab seolah-olah memberikan suatu jawaban atau pemecahan yang sederhana yang mudah diterima menurut, cara-cara berpikir alamiah tentang masalah makna. Kita dapat mengenali makna suatu istilah atau ungkapan, dan juga berdasarkan hubungan antara istilah atau ungkapan itu dengan sesuatu yang diacunya.

Banyak yang manganggap bahwa nama diri mempunyai struktur semantis yang terang. Kata ‘si manis’ atau ‘si belang", misalnya, mempunyai makna atau arti karena mengacu pada seekor kucing. Banyak contoh serupa yang kita terapkan dalam teori acuan yang diletakkan pada Jenis acuan yang konkret seperti itu. Dalam nama diri tersebut, makna kata si manis atau si belang mengandung makna karena memberi nama kepada sesuatu, yaitu si manis sebagai ganti seekor kucing. Jadi, kata-kata itu mengandung makna lantaran secara sederhana didasarkan pada fakta bahwa kata-kata itu merupakan nama seekor kucing.

Teori Ideasional, teori ideasional merupakan salah satu jenis teori makna yang menawarkan alternatif lain untuk memecahkan masalah makna ungkapan. Teori ideasional ini adalah suatu jenis teori makna yang mengenali atau mengidentifikasi makna ungkapan dengan gagasan-gagasan yang berhubungan dengan ungkapan tersebut. Dalam hal ini, teori ideasional menghubungkan makna atau ungkapan dengan suatu ide atau representasi psikis yang ditimbulkan kata atau ungkapan tersebut kepada kesadaran. Atau dengan kata lain, teori ideasional ini mengidentifikasi makna ungkapan dengan gagasan-gagasan atau ide-ide yang ditimbulkan E (Espression). Jadi, pada dasarnya teori ideasional meletakkan gagasan (ide) sebagai titik sentral yang menentukan makna suatu ungkapan.

Teori ini melatarbelakangi pola berpikir orang mengenai bahasa sebagai suatu makna atau alat (instrumen) bagi komunikasi pikiran atau gagasan, atau sebagai suatu gambaran fisik dan eksternal dari suatu keadaan internal, atau bilamana orang menetapkan suatu ka­limat sebagai suatu rangkaian kata-kata yang mengungkapkan suatu pikiran yang lengkap. Bahasa hanya dipandang sebagai alat atau instrumen dan gambaran lahiriah dari pikiran atau gagasan manusia.

Menurut Pateda, mak­na ideasional adalah makna yang muncul akibat penggunaan kata yang memiliki konsep. Katakanlah ada kata partisipasi, orang mengerti ide apa yang hendak ditonjolkan di dalam kata partisipasi. Orang men­cari maknanya di dalam kamus, orang mendengar penggunaan kata partisipasi. Berdasarkan pembacaan, kenyataan dalam komunikasi, orang mencari ide yang terdapat di dalam kata partisipasi.

Salah satu ide yang terkandung di dalam kata partisipasi, ialah aktivitas maksimal seseorang untuk ikut di dalam suatu kegiatan. Dalam pandangan Pateda, dengan mengetahui ide yang terkandung di dalam kata tersebut, orang dapat memikirkan bagaimana cara me­motivasi seseorang untuk berpartisipasi, prasyarat-prasyarat apa yang harus dipersiapkan atau dipenuhi oleh seseorang untuk berpar­tisipasi, sanksi apa yang dapat diberikan kalau seseorang tidak ber­partisipasi. Ini semua, kata Pateda, merupakan penalaran kita ter­hadap makna ideasional yang terkandung di dalam kata partisipasi.

Teori Tingkah Laku menurut Altson, merupakan salah satu jenis teori makna mengenai makna suatu kata atau ungkapan bahasa dengan rangsangan- rangsangan (stimuli) yang menimbulkan ucapan tersebut, dan atau tanggapan-tanggapan (responses) yang ditimbulkan oleh ucapan tersebut. Teori ini menanggapi bahasa sebagai semacam kelakuan yang, mengembalikannya kepada teori stimulus dan respons. Makna, menurut teori ini, merupakan rangsangan untuk menimbulkan perilaku tertentu sebagai respons kepada rangsangan itu tadi.

Terdapat beberapa kesamaan prinsip di antara teori tingkah laku ini dengan teori ideasional. Pertama, teori tingkah laku juga memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang terlibat dalam penggunaan bahasa di dalam komunikasi. Kedua, teori tingkah laku ini juga mengandaikan adanya situasi dan tanggapan tertentu yang umum sifatnya dan selalu sama manakala kata atau ungkapan bahasa itu dikatakan mempunyai makna yang sama. Perbedaannya, teori tingkah laku ini lebih memfokuskan perhatiannya pada aspek- aspek yang dapat diamati di depan umum dan situasi komunikasi.

Brodbeck (1963) juga menyajikan teori makna dengan cara yang cukup sederhana. Ia menjernihkan pembicaran ihwal makna dengan membagi makna tersebut kepada tiga corak.

1.       Makna yang pertama adalah makna inferensial, yakni makna Satu kata (lambang) adalah objek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh kata tersebut. Proses pemberian makna (reference process) terjadi ketika kita menghubungkan lambang dengan yang ditunjukkan lambang (disebut rujukan atau referen). Satu lambang dapat menunjukkan banyak rujukan. “Jari-jari dapat menunjukkan setengah diameter, bagian dari roda sepeda, atau bagian tangan. Atau satu rujukan diwakili oleh berbagai lambang. Kain yang menutup tubuh kita disebut baju, pakaian, sandang, atau busana.

2.       Makna yang kedua menunjukkan arti (significance) suatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep yang lain. Kata-kata tidak menjadi berarti karena penemuan-penemuan baru yang menunjuk­kan kesalahan konsep yang lama.

3.       Makna yang ketiga adalah makna intensional, yakni makna yang dimaksud deh seorang pemakai lambang. Makna yang menekankan maksud pembicara (misalnya: saya minta roti; saya mau menyimpan roti; saya akan memberi roti). Makna ini tidak terdapat pada pikiran orang, hanya dimiliki dirinya saja. Dua makna intensional boleh jadi serupa tetapi tidak sama.

F

Tentang Penulis

FITRO NUR HAKIM S.Sn, M.Sn

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Lanjutkan Membaca

Artikel Lainnya