Memilih antara Pengkaji Tanda

Memilih antara Pengkaji Tanda

Alex Sobur

Bidang semiotika memang boleh dikata begitu luas. Bidang ini bisa berupa proses komunikatif yang tampak lebih "alamiah” dan spontan sampai pada sistem budaya yang lebih kompleks. Dalam kaitan ini, Eco (1979:9-14) menyebut tidak kurang dari 19 bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian semiotika, yaitu: (1) semiotika binatang (zoomsemiotics), (2) tanda-tanda bauan (olfac­tory signs), (3) komunikasi rabaan (tactile communication), (4) kode- kode cecapan (code of taste), (5) paralinguistik (paralinguistics), (6) semiotika medis (medical semiotics), (7) kinesik dan proksemik (ki- nesics and prozemics), (8) kode-kode musik (musical codes), (9) bahasa yang diformalkan (formalized languages), (10) bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia (written languages, un­known alphabets, secret codes), (11) bahasa alam (natural lan­guages), (12) komunikasi visual (visual communication), (13) sistem objek (system of objects), (14) struktur alur (plot structure), (15) teori teks (text theory), (16) kode-kode budaya (cultural codes), (17) teks estetik (aesthetic texts), (18) komunikasi massa (mass communica­tion), dan (19) retorika (rhetoric).

Ada sejumlah bidang terapan semiotika. Seorang arsitek, misalnya, untuk menyebut salah satu bidang terapan, dapat melihat bidangnya dari sudut semiotika. Ia dapat mempertanyakan apa yang dapat dikerjakan dengan pengertian yang ia pinjam dari semiotika dalam arsitektur dan pertanyaan baru yang mana yang dapat ia kemukakan. Setiap bangunan, umpamanya, mempunyai denotasi masing-masing, biasanya fungsinya. Misalnya, masjid untuk shalat, gereja untuk kebaktian, balai kota untuk peme­rintahan (kotapraja). Jadi, arsitektur menjadi bidang terapan semiotika. Apa yang kita lihat di dalam, atau di luar rumah, di jalan raya, di taman, atau di alam terbuka, semuanya mempunyai arti bagi kita.

Semiotika dalam arsitektur mulai disinggung pada tahun 1937 oleh Mukarovsky. Ia mempertanyakan fungsi arsitektur dalam semiotik estetiknya. Namun, masuknya semiotika secara eksplisit dalam bahasan arsitektur, menurut Jencks, dimulai di Italia pada akhir tahun lima puluhan abad ini. Pada saat itu, timbul krisis makna di Eropa. Pada saat itu pula muncul tantangan terhadap keabsahan Arsitektur Modern yang hendak menyatukan nilai sehingga seakan-akan tidak memberi kesempatan bagi per­tumbuhan warna lokal. Pada akhir tahun enam puluhan abad ini, semiotika dibahas di Inggris, Jerman, dan Prancis untuk diterapkan dalam arsitektur dan dipakai juga sebagai alat polemik. Saat itu nama-nama seperti Umberto Eco, George Baird, Geoffrey Broadbent, dan Charles Jencks mencuat sebagai pakar yang mengkaji arsitek­tur dengan cara semiotik. Pada tahun tujuh puluhan dan permulaan tahun delapan puluhan, nama-nama seperti Juan Bonta, Preziosi, Gandelsonas, Tafuri, Scalvini, Boundon, dan Krampen muncul dalam kajian arsitektur melalui semiotika.

Lalu, bagaimana bidang terapan semiotika pada komunikasi? Ini pun tidaklah terbatas. Ia, misalnya, bisa mengambil objek penelitian mulai dari pemberitaan media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik-kartun, sastra, sampai kepada musik. Uraian berikut ini hanyalah beberapa contoh aplikasi semiotika di antara sekian banyak pilihan kajian semiotika dalam domain komunikasi.

Yang perlu kita garisbawahi dari berbagai definisi di atas adalah bahwa para ahli melihat semiotika atau semiosis itu sebagai ilmu atau proses yang berhubungan dengan tanda. Namun jika kita perhatikan, definisi yang diberikan Morris tampaknya terlampau luas, sehingga terkesan meliputi sejumlah besar proses, dari tarian lebah sampai dengan pembacaan sebuah novel.

Kata “semiotika” itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, semeion yang berarti “tanda” (Sudjiman dan van Zoest, 1996:vii) atau seme, yang berarti “penafsir tanda” (Cobley dan Jansz, 1999:4). Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika dan poetika (Kurniawan, 2001:49). “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandai adanya api.

Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dalam penelitian sastra, misalnya, kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik).

Sebuah teks, apakah itu surat cinta, makalah, iklan, cerpen, puisi, pidato presiden, poster politik, komik, kartun, dari semua hal yang mungkin menjadi “tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda: yakni, suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi.

Bahwa sistem penandaan memiliki pengaruh besar, itu disadari benar. Namun, menurut Paul Cobley dan Bitza Jansz, munculnya studi khusus tentang sistem penandaan benar-benar merupakan fenomena modern. Tanda, dalam pandangan Peirce, adalah sesuatu yang hidup dan dihidupi (cultivated). Ia hadir dalam proses interpretasi (semiosis) yang mengalir.

Pada dasarnya, semiosis dapat dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat diperikan dalam istilah semiotika sebagai suatu hubungan antara lima istilah: SIERC. S adalah untuk semiotic relation (hubungan semiotik); s untuk (tanda); i untuk interpreter (penafsir); e untuk effect atau pengaruh; r untuk reference (rujukan); dan c untuk context (konteks) atau conditions (kondisi),

Begitulah, semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda; secara sistematik menjelaskan esensi, ciri-ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.

TAG

Tidak ada tag yang tersedia