PARADIGMA PENELITIAN

PARADIGMA PENELITIAN

KONSTRUKSI REALITAS


Bagaimana manusia mengonstruksi realitas ? setiap manusia harus menyadari bahwa ada realitas objektif dalam kehidupan, yaitu kenyataan yang ada. Awal mulanya realitas di telaah berdasarkan subjektivitas, kemudian manusia membangun persepsi realitas dengan melakukan interpretasi pada struktur yang mungkin dan berfungsi pada realitas yang tampak atau disebut realitas ilmiah (tekstual). Realitas yang tidak tampak atau disebut realitas alamiah (kontekstual). Selanjutnya, manusia membutuhkan paradigm untuk membangun realitas tersebut.

Menurut Capra (1981), paradigm adalah cara berpikir tentang konsep, nilai – nilai persepsi, dan praktik yang dialami masyarakat, berbentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar mengorganisasikan dirinya. Sedangkan Kuhn (1962) berpendapat bahwa paradigm adalah orientasi dasar terhadap  teori dan penelitian secara umum merupakan keseluruhan system berpikir yang mencakup  asumsi besar, pertanyaanya yang harus dijawab atau teka – teki yang harus dipecahkan. Selanjutnya, Neuman (2013) menganggap bahwa paradigm adalah kerangka penyusunan umum teori dan penelitian yang mencakup asumsi dasar, persoalan init, model dari penelitian, dan metode untuk  menjawab pertanyaan. Dengan demikian, disimpulkan bahwa paradigma adalah cara pandangan manusia terhadap realitas kehidupan yang disusun secara logis sistematis untuk menjawab atau memecahkan permasalahan dengan tujuan untuk kebaikan umat manusia.

Dalam konteks keilmuan, paradigma ilmiah bersumber dari pandangan filsafat positivism, sedangkan paragidma alamiah bersumber dari pandangan post-positivisme. Kemudian, harus disadari baha bekerja dalam penelitian ilmiah merupakan pekerjaan keilmuan. Maka konsekuensinya tidak dapat lepas dari kerangka filosofis atau paradigm yang mendasarinya. Terlenihlagi penelitian kualitatif yang bersifat holistic komprehensif serta memiliki ragam pendekatkan yang sangat banyak. Oleh karenanya, menurut  Creswell (2013) para peneliti kualitatif terlenih dahalu diharuskan memiliki empat keyakinan dasar, yaitu (1) ontologies  yang merupakan watak dan realitas, (2) epistemology adalah apa yang dianggap sebagai ilmu pengetahuan dan bagaimana ilmu pengetahuan di afirmasi, (3) aksiologis adalah peran dari nilai dalam riset, dan (4) metodologis atau proses melakukan riset.

Denzin dan Lincoln (2011) menganggap asumsi filosofis sebagai kerangka penting yang harus dipelajari, dapat berupa teori ilmu social, missal teori kepemimpinan, teori pembelajaran, teori ekonimi, atribusi, serta ratusan kemungkinana lain yang bekerja dan berkomitmen pada persoalan tentang keadilan social, kesetaraan, keadilan, dan hak asasi manusia. Implikasinya, para peneliti kualitatif harus sepakat dan berkomitmen untuk menggunakan aturan dan standar praktik ilmiah yang sama. Dalam konteks kehidupan, maka seluruh upaya yang dilakukan harus memilikikomitmen terhadap jaminan kesetaraan, keadilan, dan hak asasi tiap warga Negara  terhadap akses – akses pendidikan, social, ekonomi, dan politik guna memperoleh kehidupan yang layak. Pendek kata, seluruh kegiatan  penelitian dibidang keilmuan diupayakan untuk kebaikan dan kelangsugan peradaban umat manusia dan  bukan untuk menghancurkan peradaban.

1. Ontologi

Ontologi merupakan cabang filsafat yang membahas hal ada, eksistensi, kenyataan, alam semesta, atau manusia.  Dengan kata lain dalam hal keilmuan ontology berarti cara untuk memahami tentang hakikat segala sesuatu. Dalam kehidupan manusia, ontologi  berbicara tentang konsep realitas kehidupan, pengalaman hidup, keterampilan yang menjadi tujuan, serta usaha – usaha dalam meningkatkan harkat dan  martabat manusia sebagai makhluk social yang berbudaya.

 

2. Epistemology

Epistemology adalah cabang filsafat yang mempelajari asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia. Epistemology dinamakan sebagai  teori pengetahuan, tentang bagaimana seorang ilmuwan membangun ilmunya. Persoalan –persoalan yang dibahas, yaitu tentang apa sebenarnya yang dimaksud pengetahuan, bagaimana cara manusia mengetahui sesuatu, dari mana pengetahuan diperoleh, bagaimana cara menilai validalitas, apakah perbedaan antara pengetahuan apriori dengan pengetahuan aposteriori, dan sebagainya. Selain itu, juga dibahas mengenai perbedaan antara kepercayaan, pengetahuan, pendapat, faktam kenyataan, kesalahan, bayangan, gagasan, kebenaran, kemungkinan, dan kepastian.

Proses – proses yang memungkinkan mengonstruksi pengetahuan menjadi ilmu beserta prosedurnya juga penting, karena akan mengarahkan pemikiran ke cabang metodologi. Ilmu epistemology mencakup tentang kemampuan untuk berpikir deduktif dan induktif. Berpikir deduktif artinya mampu  bersikap rasional kepada pengetahuan ilmiah dan konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Ranah ini menuntut berpikir secara sistematik dan kumulatif. Pengetahuan ilmiah disusun tahap demi tahap dengan menyertakan arugumen – argumen yang logis. Epistemology  berusaha menjelaskan  objek yang berada dalam focus penelaahan secara konsisten, koheren, dan rasional.

3. Aksiologi

Aksiologi adalah teori tentang nilai, pemikiran, apa sesunghnya nilai itu dan aa hubungan dengan kegunaan dari pengetahuan. Aksiologi terbagi menjadi riga bagian, yakini (1) moral conduct adalah tindakan moral yang melahirkan etika, yaitu pengetahuan harus mengutamakan tatanan etikaumat manusia sebagai makhluk social, tentang aturan – aturan perilaku yang benar, (2) esthetic expression atau ekspresi tentang keindahan adalah setiap ilmu pengetauan menjadi sarana dalam mengekspresika nilai – nilai keindahan dan budi pekerti, dan (3) socio-poltical life atau kehidupan social – politik merupakan ilmu pengetahuan yang menjadi sarana dan bermanfaat bagi kehidupan social dan politik warga masyarakat. Contohnya, aliran behaviorisme memberi hadiah bagi perilaku yang sesuai dengan tuntunan pembelajaran yang diinginkan dan sebaliknya menghukum bagi setiap perilaku pelanggaran. Aliran idealisme berpandangan bahwa kebaikan, kebenaran, dan keindahan berlaku universal di semua tempat dan waktu. Sedangkan pragmatisme memandangan  nilai – nilai kebudayaan bersifat relative bergantung pada pribadi dan kelompok situasi, waktu, dan tempat berbeda. Setiap nilai memiliki perspektif dan aturan sesuai dengan kesepakatan bersama dalam sebuah komunitas tertentu.

 

4. Metodologi

Menurut Kuswarno (2009), metodologi memiliki makna landasan yang menyediakan dasar – dasar kerja filsafat dari sebuah metode. Seperti filsafat positivisme, filsafat post-positivisme, fenomenologi, dan lain – lain. Metode secara umum didefinisikan sebagai a body of methods and rules followed in science or discipline. Secara etimologi, metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu methods yang berarti cara atau jalan yang ditempuh atau cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu. Dalam hal ini fungsi metode berarti alat untuk mencapai tujuan ilmu pengetahuan. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melakukan penilitian ilmiah.

 

Penelitian adalah suatu proses dari langkah – langkah yang digunakan untuk mengumpulkan informasi untuk meningkatakan pemahaman tentang suatu topic dan isu tertentu (Creswell, 2015). Selanjutnya Kerlinger (1986) merumuskan penelitian adalah cara investigasi yang sistematis, tekontrol, empiris, dan kritis dari suatu proposisi hipotesis mengenai hubungan antarfenomena. Sementara menurut Cozby (2009), karakter terpenting dari metode penelitian ilmmiah adalah empirisme, yaitu pengetahuan yang didasarkan pada observasi sebagai pengumpulan data untuk membentuk basis kesimpulan tentang sifat dunia. Sedangkan Sugiyono (2004) berpendapat bahwa metode penelitian adalah cara – cara ilmiah  untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dapat disimpulkan bahwa metode dalam penelitian ilmiah adalah cara yang digunakan untuk mengumpulkan data – data yang berkaitan dengan fakta penelitian dengan tujuan dan kegunaan ilmu pengetahuan. Cara ilmiah adalah aktivitas yang didasarkan pada ciri – ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis.

Metodologi menyediakan dasar – dasar kerja filsafat dari sebuah metode. Metode adalah serangkaian aktivitas yang berkaitan dengan cara pengembalian dan pengolahan data. Jika hasil penelitian bergantung pada data, maka sering disebut sebagai metode penelitian kualitatif, kuantitatif atau campuran (mixed). Namun khusus metode R&D yang berbasis pada spesifikasi produk dan tidak bergantung pada data, amak R&D tidak termasuk pada metode kuantitatif, kualitatif, atau mixed.

TAG

Tidak ada tag yang tersedia