Studi mengenai interpretasi tuturan dan lebih
spesifiknya mengenai bagaimana konteks situasi mempengaruhi makna yang
dihasilkan. Secara tradisional, kajian makna dalam linguistik terfokus pada makna
kata atau kalimat seakan makna berada dalam ekspresi linguistik itu sendiri dan
ditentukan oleh sistem linguistik. Namun, pragmatik, menekankan pada peran
konteks dalam menentukan makna. Faktanya, tentu saja, sudah lama diketahui
bahwa persoalan linguistik seperti deiktis dan ekspresi indeksikal lainnya
bergantung pada konteks situasi untuk menentukan makna. Secara khusus, deiktis
seperti kata ganti orang aku dan kamu dan ekspresi indeksikal seperti besok
bergantung pada makna mereka dalam kondisi dimana kata-kata itu diucapkan. Jadi,
makna pasti dari ‘aku akan mengunjungimu besok’ akan sangat bervariasi
bergantung siapa yang berbicara dan kepada siapa yang diajak bicara, dan kapan
pembicaraan itu berlangsung.
Isu pragmatik
bergerak jauh melampui makna kata termasuk pertimbangan efek kontekstual yang
kompleks dimana makna tuturan lebih dari apa yang dikatakan secara literer. Ketika kita
berkendara di kota asing dan kita bertanya kepada seseorang, ‘Adakah pom bensin
di sekitar sini?’ dan ia akan menjawab ‘Ada garasi di sana, dekat belokan’
Kita mengasumsikan bahwa garasi tersebut adalah tipe garasi yang menjual
bensin (bukan garasi untuk memarkir mobil Anda) dan itu terbuka. Kesimpulan
semacam ini jauh melampui pemaknaan literernya tentang apa yang dikatakan dan
hal ini lebih dikenal dengan implikatur.
Lebih jauh lagi
jenis efek kontekstual terkait dengan gagasan mengenai tindak tutur.
Perintah/Direktif sebagai contoh, merupakan tipe tindak tutur yang umum
dirancang supaya seseorang melakukan sesuatu. Perkataan semacam ‘Mainkan
pianonya, Elton’ terdengar seperti
memerintah apapun keadaan dimana perkataan itu diucapkan. Tetapi perkataan
seperti ‘Maukah kamu memainkan pianonya, Elton?’, ‘Elton, kamu bisa bermain piano?, dsb
mungkin atau mungkin tidak terbukti memerintah tergantung dari konteks situasi.
Jika guru dalam pelajaran musik berkata kepada muridnya, ‘Kamu bisa bermain
piano, Elton?’ dengan piano yang
menunggu untuk dimainkan, itu tentu saja terdengar sebagai sebuah perintah. Di
lain pihak, jika ada sekelompok orang yang tidak terlalu mengenal satu sama
lain sedang mendiskusikan instrumen musik apa yang bisa mereka mainkan dan
saling bertanya satu sama lain, ‘Elton, kau bisa main piano?’, hal itu
terdengar sebagai permintaan daripada sebuah perintah. Dalam cara ini, apa yang
didengar perkataan sebagai sesuatu yang dilakukan (dengan kata lain, tindak
tutur apa yang sedang dilakukan) dapat bervariasi berdasarkan konteks
situasinya.
Tujuan pragmatik
adalah menjelaskan pelbagai macam efek kontekstual ini, tetapi secara lebih
signifikan, pragmatik bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pengguna bahasa
sebenarnya memaknai perkataan satu sama lain dalam pelbagai macam hal
ambiguitas dan indeterminansi yang melingkupinya.
Kontribusi
pragmatik pada kajian komunikasi atau desain dapat dipertimbangkan, meskipun tidak
selalu disadari karena pragmatik terkait dengan isu yang paling bermasalah di
seputar teks dan interpretasi (‘Dimana makna—dalam teks; atau dalam konteks).
Pada saat bersamaan, bagaimanapun juga, pragmatik secara lebih dekat
terasosiasi dengan kepentingan ilmu pengetahuan kognitif dan studi kecerdasan
buatan. Keterkaitan itu cenderung memproduksi penekanan kuat pada rasionalitas
komunikator dan pada prosedur universalitas interpretatif yang diadopsi, untuk
itu banyak kerja yang tersisa dan harus diselesaikan pada distribusi yang
secara sosial terstruktur dan organisasi pengetahuan pragmatik dan prosedur.