Tahapan Membuat Sketsa Bangunan yang Menarik
SANTI WIDIASTUTI S.T, M.T
11 Juli 2022
Sketsa merupakan
gambar rancangan, rengrengan, denah, dan bagan. Dalam perancangan arsitektur,
membuat sketsa adalah langkah awal dalam kegiatan menggambar yang dilakukan
oleh seorang arsitek untuk memenuhi dan memahami keinginan klien dari pembuatan
desain sketsa bangunan mereka.
Sketsa bangunan
digunakan untuk mengilustrasikan poin-poin yang dibuat oleh si arsitek; untuk
mengusulkan berbagai sudut pandang atau pendekatan terhadap masalah desain
bangunan; untuk menjelaskan kepada klien tentang bagaimana arsitek tersebut
bermaksud menanggapi (feedback) permintaannya, atau untuk menguatkan
kesepakatan tentang apa yang diharapkan dari si arsitek dan klien atau akan
tampak seperti apa desain yang telah disetujui itu nantinya.
Pengertian dan Fungsi Sketsa Bangunan
Proses perancangan
gambar awal dan sederhana secara global yang dilakukan pada saat proses
menggambar dengan ciri khas yang kasar dan ringan disebut sketsa.
Jadi, sketsa
bangunan dapat didefinisikan sebagai gambar sederhana atau draf kasar yang
dibuat secara global, tidak detail, melukiskan bagian-bagian gedung bangunan
yang ingin ditampilkan oleh pembuatnya.
Sedangkan sketsa
bangunan berfungsi sebagai berikut ini :
·
Untuk mengeksplor kesuluruhan
bangunan;
·
Metode untuk memahami proporsi;
·
Medium untuk memanipulasi
sambungan material;
·
Cara untuk menghitung sistem
struktur baru.
Sketsa juga
mengkomunikasikan informasi di dalam biro antara arsitek dengan drafter-nya.
Yang terpenting adalah gambar dan sketsa bangunan menjelaskan dan mengeksplor
pencapaian teoritis dari pembuatnya
Tahapan Dasar dalam Pembuatan Sketsa Gambar Bangunan
Sketsa bangunan
biasanya dibuat dengan menggunakan unsur garis, blok dan warna. Dalam bidang
keteknikan, sketsa bangunan biasa dibuat pada awal pemilihan sebuah rancangan
untuk menilai efisiensi suatu desain.
Sketsa bangunan
digambarkan dengan cara kasar tanpa detail atau secara garis besarnya suatu
rancangan bangunan. Sketsa tersebut dapat dijadikan acuan standar untuk
pembuatan detail konstruksi dengan segala macam pertimbangan seperti
lingkungan, estetika, sampai dengan anggarannya.
Arsitek membuat
sketsa gambar bangunan dengan tahapan rancangan sebagai berikut.
1. Meneliti Informasi Bangunan
Sebelum
melakukan proses penggambaran sketsa bangunan, seorang arsitek atau engineer
melakukan penyelidikan tentang maksud dan tujuan pembuatan bangunan dan
informasi lainnya.
2. Melakukan Konsultasi untuk Menjaring Keinginan owner Arsitek perlu
membuka layanan konsultasi guna untuk mengetahui jenis bangunan yang diinginkan
pemilik, mulai dari tipe bangunan, ukuran, model design, jumlah penghuni,
kebutuhan ruang, dan kemampuan anggaran pemilik.
Dalam
praktik nyata sesi konsultasi antara arsitek dengan klien, arsitek biasanya
akan menggambar sketsa bangunan sebagai respon dari percakapan mereka. Tahapan
ini sebagai pertimbangan pembuatan karakter suatu bangunan yang mewakili
keinginan pemiliknya.
3. Melakukan survey lokasi dan ukuran lahan
Arsitek
mensurvei lokasi dan mengukur lahan yang ingin dibangun. Arsitek akan
menyesuaikan ukuran bangunan dengan memperhitungkan efektifitas ketersediaan
lahan, bentuk tanah dan kelandaiannya. Dengan harapan alokasi ruang dan lahan
dapat terpenuhi secara efektif dan maksimal.
4. Membuat Desain Tata Ruang
Arsitek
dapat menuangkan ide desain tata ruang ke dalam gambar denah atau gambar
ortogonal lainnya, tidak harus dalam sketsa bangunan. Si arsitek harus memperhitungkan
semua aspek kebutuhan ruang secara standar maupun berdasarkan
kreatifitasnya.Aspek tersebut meliputi, luas ruangan, letak efektif tiap
ruangan, jumlah ruang dan fasilitas. Tata ruang didesain dengan perhitungan
matang dan akurat sehingga mempermudah penghuni dalam mengakses setiap ruang
dengan mudah dan efisien.
5. Menambahkan Estetika di dalam atau di luar ruangan
Arsitek
mendesain bentuk dan karakter suatu bangunan disesuaikan dengan estetika yang
ingin ditampilkan. Nilai estetika tersebut berhubungan dengan bentuk dinamis
dan modern yang dipengaruhi oleh perkembangan zaman.
Lingkungan
lokasi bangunan juga harus diperhitungkan saat mendesain agar tercipta sebuah
konstruksi yang ramah lingkungan, sesuai dan mencerminkan karakter penghuni
secara prestisius. Estetika tersebut juga dapat berasal dari keinginan si
penghuni yang bersangkutan. Seperti kebutuhan teras, selasar, raling tangga,
taman, garasi dan lain-lain.
6. Menambahkan Gambar atau Desain
Properti
Untuk
menampilkan visualisasi yang nyata, arsitek perlu merancang properti yang
diperkirakan akan menjadi kebutuhan standar sebuah bangunan, misal kitchen set
di dapur, mobil di garasi, tempat tidur di ruang tidur, dan sebagainya.
Properti-properti tersebut penempatannya disesuaikan dengan bentuk ruang dan
lahan.
Tentang Penulis
SANTI WIDIASTUTI S.T, M.T
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.