TIPOGRAFI HINGGA ORNAMEN dan BENTUK BANGUNAN

TIPOGRAFI HINGGA ORNAMEN dan BENTUK BANGUNAN

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa lepas dari komunikasi karena manusia merupakan makhluk sosial. Sejak zaman purba, komunikasi terus berkembang mulai dari lisan hingga tulisan dalam berbagai wujud seperti guratan, ukiran, gambar, tulisan tangan, percetakan. Penemuan percetakan pada pertengahan abad ke-15 mempengaruhi perkembangan tipografi dengan Johan Gutenberg sebagai pelopor pembaharu tipografi yang menemukan huruf cetak timah tepatnya pada tahun 1455. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tipografi merupakan ilmu cetak atau seni percetakan. Adapun hal-hal yang menjadi perhatian utama dalam tipografi adalah typefaces, x-height, baseline, leading, kerning, tracking, point size, ascenders, descenders.

https://geometryarchitecture.files.wordpress.com/2013/03/tipografi-faktor.png?w=1024&h=255Glosarium:

  • Typeface : tipe huruf, saat ini biasanya orang menyebutnya font

  • X-height : tinggi huruf dasar, tidak termasuk ascenders dan descenders

  • Set width : lebar huruf secara keseluruhan

  • Baseline : garis pembatas dasar untuk x-height

  • Leading : jarak vertikal antarbaris tulisan

  • Kerning : jarak horizontal antara 2 huruf yang saling berdekatan dalam 1 kata

  • Tracking : jarak horizontal antarhuruf secara keseluruhan dalam 1 kata

  • Point size/pixel size : ukuran huruf dalam satuan points/pt atau pixels/px

  • Ascenders : bagian dari huruf kecil (bukan kapital) yang berada di atas x-height, seperti pada b, d, f, h, i, j, k, l, dan t

  • Descenders : bagian dari huruf kecil (bukan kapital) yang berada di bawah x-height, seperti pada g, j, p, q, dan y

Ukuran-ukuran yang digunakan pada tulisan mempengaruhi cara membacanya. Terlalu kecil ruang yang terbentuk antarhuruf, antarkata, ataupun antarbaris, maka tulisan tersebut akan menjadi lebih sulit dibaca. Begitu pula jika ruang yang terbentuk terlalu besar sehingga sebaiknya terdapat ruang yang cukup dan tiap hurufnya menggunakan proporsi. Namun, karena tipografi ini berkaitan dengan seni, tidak adanya batasan-batasan yang melarang tujuan penggunaan ukuran-ukuran tersebut, misalnya jika memang tujuannya ingin menghadirkan efek padat pada tulisan, penggunaan tracking dan leading yang ketat dapat menjadi pilihan.

https://geometryarchitecture.files.wordpress.com/2013/03/good-bad.png?w=614&h=102

Sebelumnya telah disinggung mengenai proporsi huruf, tetapi taukah Anda proporsi huruf itu sendiri? Secara umum proporsi huruf dapat digolongkan berdasarkan bentuk dasar yang membungkusnya menjadi seperti berikut.

https://geometryarchitecture.files.wordpress.com/2013/03/bungkus-huruf1.png?w=180&h=79

Sedangkan jika berdasarkan elemen-elemen penyusunnya yang dominan, huruf dapat dikelompokkan menjadi seperti berikut.

  • Garis tegak : E F H I L T

  • Garis tegak dan diagonal : A K M N V W X Y Z

  • Garis tegak dan lengkung : B D G J P R U

  • Garis lengkung : C O Q S

Namun, tidak selamanya hal ini berlaku karena saat ini typeface sudah banyak dan beragam. Ada typeface yang bentuk dasar tiap hurufnya merupakan persegi, ada typeface yang tiap hurufnya tersusun dari garis lengkung, ada typeface yang elemen penyusun tiap hurufnya berupa titik, dsb. Walaupun demikian, dengan mengetahui geometri huruf-huruf tersebut, kita dapat lebih mudah dalam menyusunnya, misalnya huruf H dapat dikolaborasikan dengan bentuk-bentuk dasar yang menyiku atau huruf S dengan bentuk lingkaran dan kurva.

Geometri huruf-huruf ini pun tidak terjadi begitu saja. Terdapat beragam pendekatan dengan menggunakan jangka dan penggaris yang telah dilakukan tokoh-tokoh pada zaman renaissance, seperti seorang ahli matematika Italia Luca Pacioli dengan bukunya De Divina Proportione (1509), seniman Jerman Albrecht Dürer dengan bukunya Underweysung der Messung (1525), dan “men of the book” dari Perancis Geoffroy Tory dengan bukunya Champ Fleury (1529). Di dalam Champ Fleury dengan subjudul “The Art and Science of the Proportion of the Attic or Ancient Roman Letters, According to the Human Body and Face”, Geoffroy Tory menulis “The crossstroke covers the man’s organ of generation, to signify that Modesty and Chastity are required, before all else, in those who seek acquaintance with well-shaped letters.”

https://geometryarchitecture.files.wordpress.com/2013/03/3.png?w=922&h=186

https://geometryarchitecture.files.wordpress.com/2013/03/geoffroy-tory.png?w=922&h=691

Perkembangan penggunaan tipografi ini sudah meluas mulai dari yang paling dasar yaitu pada media massa ( koran, buku, flyer, poster, dll.), media elektronik (televisi, online broadcast, dll.), hingga arsitektur. Pada awalnya, penerapan tipografi pada arsitektur berupa denah bangunan yang dirancang oleh arsitek Johann Steingruber yang kemudian dibukukan dalam bukunya berjudul Architectonisches Alphabeth (1773). Tiap bangunan memiliki karakteristiknya masing-masing yang diakibatkan oleh penyusunan program ruang di dalamnya dan tentunya bentuk denahnya itu sendiri.

https://geometryarchitecture.files.wordpress.com/2013/03/steingruberaz.png?w=1000&h=404Selain denah, di bawah ini terdapat contoh-contoh penerapan tipografi pada eksterior (fasad) maupun interior. Penerapannya dapat berupa estetika visual secara langsung, yaitu sekadar tulisan-tulisan yang menempel pada permukaan. Jika lebih kompleks lagi, penerapan tipografi dapat mempengaruhi penghawaan dan kualitas ruang di dalamnya. Saat ini banyak dijumpai karya arsitektural yang kulitnya menggunakan susunan huruf secara acak dengan leading dan tracking/kerning yang ketat. Penerapan tipografi juga merambah ke aspek struktural walaupun biasanya bukan sebagai struktur utama, kecuali untuk produk-produk furnitur yang ukurannya tidak terlalu besar dapat mengadopsi bentuk huruf secara utuh sebagai struktur utamanya. Lalu, bagaimana perancang memasukkan unsur tipografi dalam karyanya? Apakah sama seperti yang dilakukan Luca Pacioli, Albrecht Dürer, Geoffroy Tory dengan membentuknya dari garis-garis lurus dan lengkung yang terhitung ataukah sesuka hatinya? Jika dilihat sekilas, menurut saya perancang tetap menggunakan perhitungan yang lebih fokus kepada x-heightleadingtracking, dan set width. Kebanyakan untuk tiap hurufnya menggunakan typeface yang sudah ada sehingga tidak perlu membentuk huruf dari awal. Khusus untuk masjid Al-Irshad, tiap hurufnya terbentuk oleh  grid-grid yang kemudian disesuaikan dengan luas permukaan dindingnya.

https://geometryarchitecture.files.wordpress.com/2013/03/gabungan.png?w=655&h=369

(baris atas dari kiri ke kanan: The South Korea Pavilion, Fougères Biblioteque, Marzahn Recreational Park, Fukutake House, Wales Millennium Centre, Masjid Al-Irshad Bandung; baris bawah dari kiri ke kanan: House of Terror, New Jersey Performing Arts Center, The Minnaert Building (University of Utrecht), The Number House, The Marion Cultural Centre, Barbara Kruger, typographic furniture)

Sumber:

  • http://thinktep.wordpress.com/2009/11/22/komponen-desain-teks/

  • http://www.garamond.culture.fr/en/page/fiche3

  • http://www.spamula.net/blog/2005/10/steingrubers_alphabet.html

  • http://ginva.com/2011/09/when-architecture-meets-typography/



Gedung Huruf © 2016 brilio.netGedung Huruf © 2016 brilio.netGedung Huruf © 2016 brilio.net

TAG

Tidak ada tag yang tersedia