Tidak bisa dipungkiri bahwa gaya Skandinavian sudah jadi primadona di kalangan pencinta desain interior, khususnya milenial yang tinggal di wilayah perkotaan. Sebelumnya, gaya desain ini lebih dulu mengawali tren desain modern di Eropa Timur pada tahun 1950-an.

Keutamaan gaya Skandinavia bukan dari segi estetika semata, namun juga kegunaannya. Mulai dari tampilan, penataan ruang, dan desain furnitur dari gaya Skandinavia menawarkan kenyamanan sekaligus kemudahan akses yang diimpikan para milenial, praktis untuk gaya hidup mereka yang serba cepat.

Senada dengan milenial lainnya, klien DekorumaHome, Shinta, sejak awal terkesan dengan kesederhanaan yang diperlihatkan gaya Skandivia. Memiliki hunian yang menampilkan dominasi warna putih dan diselingi kehangatan corak kayu merupakan impiannya.

Desainer Interior Partner (IDP) dari DekorumaHome, Farah Dina Rachman, mencoba mengembangkan keinginan Shinta dengan tak hanya mengaplikasikan warna putih di seluruh interior apartemen miliknya, namun juga melakukan penataan ruang yang apik sehingga menyempurnakan konsep dari gaya Skandinavia itu sendiri, yakni mengedepankan kelancaran akses antar ruangnya.

Hal ini tercemin
pada ruang utama di apartemen ini dimana tiga ruangan dengan fungsi berbeda:
ruang tamu; ruang makan; dan dapur menyatu tanpa adanya dinding pembatas. Meski
tanpa batas, area untuk ketiga ruangan ini tetap terbagi dengan jelas.
Kuncinya hanya satu, yakni ukuran furnitur yang disesuaikan dengan luas masing-masing area. Penggunaan furnitur pesanan (custom furniture), yang sebagian besar dipakai pada apartemen, ini memudahkan penataan ruangan yang luasnya terbatas. Menariknya, agar transisi antara ruang tamu dan dapur terlihat cair dibuatlah sekat imajiner berupa ruang makan dengan konsep meja bar.


Namun, bukan berarti penataan ketiga ruangan tersebut jauh dari kendala. Pada mulanya, sumber listrik tidak terletak pada posisi yang strategis. Farah dan tim DekorumaHome berhasil melakukan sejumlah penambahan saklar dan stop kontak di beberapa titik. Perbaikan plafon di ruang tamu pun dilakukan untuk menjaga tampilan interior tetap rapi.

Kamar tidur turut
memberikan pengalaman ruang yang menarik. Masih memperlihatkan simplisitas dan
kepraktisan, desain lemari geser dipilih untuk mempermudah penggunaannya di
kamar mungil.
Memanfaatkan ruang yang ada, rak buku berwarna putih dengan aksen kayu dari pelapis HPL pun ditempatkan sejajar dengan lemari geser. Desain kamar ini tidak diolah lebih jauh karena kamar ini akan dialihfungsikan menjadi kamar anak nantinya.

Kontras
diantara dominasi putih coba ditampilkan dengan memilih warna-warna
penyeimbang, seperti warna abu-abu gelap, warna hitam, dan penggunaan material
kayu. Komposisi ini menguatkan gaya Skandinavia yang semula diusung,
menyelipkan atmosfer kehangatan yang juga menjadi ciri khas yang melekat pada
gaya Skandinavia